Dari Fashion ke Minuman Sehat: Transformasi Sukses Erma Menggunakan AI untuk Usaha Susu Almond dan Kurma

Hubungi Kami Dari Fashion ke Minuman Sehat: Transformasi Sukses Erma Menggunakan AI untuk Usaha Susu Almond dan Kurma Bogor – Botol-botol susu berwarna cokelat keemasan tersusun rapi di atas meja dapur. Aroma kurma yang manis berpadu dengan susu segar, menghadirkan suasana hangat di rumah sederhana milik Erma Kurais. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya minuman biasa. Namun bagi Erma, seorang ibu rumah tangga, susu kurma adalah simbol perjuangan dan ketekunan.Sebelum menekuni usaha ini, Erma sempat mencoba peruntungan di dunia fashion. Ia menjual pakaian, mengikuti tren, dan bermimpi membangun bisnis sendiri. Namun, perlahan ia sadar bahwa usaha tersebut membutuhkan modal besar. Biaya model, foto produk, hingga peralatan promosi terasa memberatkan. Ketika pandemi COVID-19 datang pada 2020, usaha fashion yang dijalani Erma benarbenar terhenti. Di tengah situasi sulit tersebut, suaminya memberi saran sederhana untuk mencoba berjualan susu kurma. Tanpa rencana matang, tanpa strategi rumit, Erma mulai meracik minuman itu sendiri di dapur rumah. Produksi pertamanya hanya lima botol susu kurma dan pembelinya adalah para tetangga saja. Mereka bilang rasanya sangat enak dan menyegarkan. Dari obrolan mulut ke mulut, pesanan susu kurma mulai berdatangan. Erma lalu berinisiatif membuat akun Instagram sederhana untuk promosi. Foto produknya masih biasa saja, hanya botol bertulisan tanpa banyak hiasan. Namun, rasa dan konsistensi yang ia jaga membuat orang kembali membeli. Dalam sebulan, omzet usahanya berkisar lima hingga enam juta rupiah. Produksirutin mencapai tiga ratus botol dan bisa naik hingga lima ratus botol saat bulan Ramadan. Meski begitu, Erma juga merasakan naik turunnya penjualan. Pada bulan-bulan tertentu seperti Agustus atau Februari, ketika kebutuhan sekolah meningkat, pesanan biasanya berkurang. Perjalanan Erma tidak hanya soal bertahan, tetapi juga soal belajar beradaptasi. Salah satuperubahan besar datang ketika ia mulai memanfaatkan teknologi AI. Dulu, Erma kesulitan membuat materi promosi yang menarik. Sekarang, dengan bantuan AI, ia bisa menampilkan gambar kurma dan almond yang lebih hidup dan profesional. “Rasanya seperti jadi pintar dadakan,” katanya sambil tersenyum. Bagi Erma, teknologi bukan sesuatu yang menakutkan. Justru sebaliknya, AI sangat membantunya berjualan dengan lebih mudah dan efisien. Ia bisa lebih fokus pada kualitas produk, sedangkan urusanvisual dan promosi menjadi lebih ringan. Kemudian, Erma bereksplorasi dengan menambahkan varian susu almond. Minuman sehat ini semakin diminati, terutama oleh mereka yang peduli dengan gaya hidup sehat. Produk susu almond ini yang hingga saat ini ternyata paling digandrungi masyarakat. Karena produk susu milik Erma tidak lagi identik dengan kurma, ia justru mengubah akun instagram yang tadinya sederhana dan belum mengandung merek, dengan nama @almondmilk_hisyam yang saat ini memiliki postingan postingan produk estetik hasil bantuan penggunaan AI. Kini, hampir lima tahun berjalan, Erma telah memiliki beberapa reseller dan pelanggan setia. Hari ini, susu kurma dan susu almond buatannya dijual seharga lima belas ribu rupiah perbotol. Harga yang terjangkau, rasa yang bersahabat, dan proses yang dijalani dengan disiplin menjadikannya dipercaya banyak orang. Dan setiap pagi, ketika Erma kembali berdiri di dapur rumahnya, ia berdiri sebagai pemenang. Bukan karena usahanya besar, tetapi karena ia tidak berhenti melangkah saat dunia berhenti bergerak. Dari dapur sederhana itu, Erma membuktikan bahwa UMKM tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari keberanian menghadapi hari demi hari. Seperti susu almond dan kurma yang ia racik dengan tangannya sendiri, tenang, sederhana, namun menguatkan, usaha Erma terus mengalir. Pelan, konsisten, dan tak tergoyahkan. Sebuah kemenangan kecil yang nyata, dan karena itulah, sungguh heroik. Most Recent Posts Pemerintah Dorong UMKM Perkuat Identitas Digital Lewat Domain untuk Naik Kelas Asosiasi Domain Internet dan Tiar Nabilla Karbala Memacu UMKM Naik Kelas PANDI Perkuat Daya Saing UMKM Lewat Digitalisasi Primajasa Teguhkan Komitmen Pendidikan Nasional Category BERITA & PUBLIKASI (58) UMKM & Teknologi (12)
Dari Cutter hingga AI: Kisah Mikcy Kelola Bambu hingga Mampu Ekspor dan Menghidupkan UMKM Baru

Hubungi Kami Dari Cutter hingga AI: Kisah Mikcy Kelola Bambu hingga Mampu Ekspor dan Menghidupkan UMKM Baru Bogor – Miniatur kendaraan dengan detail halus, gantungan kunci, botol minum, hingga berbagai hiasan rumah yang hangat dipandang, semua itu bisa ditemukan di MQ Art Bamboo. Bagi yang menyukai dekorasi unik dan bernuansa natural, karya-karya bambu buatan Micky Mulyadi terasa akrab sekaligus istimewa. Setiap produk dibuat dengan tangan, penuh ketelitian, dan menyimpan cerita sederhana tentang keindahan bambu yang diolah dengan rasa. Bagi sebagian orang, bambu hanyalah batang hijau yang tumbuh liar di pinggir jalan. Jika bambu dianggap simbol kesederhanaan, maka MQ Art Bamboo adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kebermanfaatan. Dari bahan yang sering dipandang sebelah mata, Micky Mulyadi membangun usaha yang bertahan lebih dari satu dekade. Hobi mengolah bambu berkembang menjadi bisnis, aksi pemberdayaan, hingga menghubungkan bengkel kecil di Bogor itu dengan pasar global. MQ Art Bamboo tidak berhenti bergerak meski pernah berada di titik terendah saat pandemi COVID-19. Produksi nyaris berhenti, bahan baku sulit didapat, dan usaha sempat berada di titik nol. Tapi dari fase paling sulit itu, justru tumbuh kembali keyakinan untuk bangkit. Dalam proses pemulihan, dukungan pemerintah terasa sangat nyata. Bantuan mesin, program pelatihan, dan ruang kolaborasi membuka napas baru. Hal tersebut dikemukakan Micky dalam acara pelatihan UMKM di Bogor (12/11/25) yang dihadiri Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital. Di forum tersebut, transformasi digital termasuk pemanfaatan AI, dibahas sebagai alat kerja, bukan sebagai ancaman. Bagi MQ Art Bamboo, AI telah membantunya untuk desain produk, penghitungan biaya, hingga pengelolaan keuangan sederhana, membuat proses bisnis menjadi lebih mudah dan tertata. Micky memulai MQ Art Bamboo pada 2014, berangkat hanya dari kegemaran, tanpa jaminan pasar, dan tanpa modal besar. Produk awalnya sederhana namun penuh karakter: tumbler, mug, miniatur, hingga karya seni berbahan bambu. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan proses panjang seperti belajar mengawetkan bambu agar tak berjamur, memilih bahan yang tepat, dan menjaga presisi produksi. Tantangan terbesarnya justru ada pada pandangan orang lain: meyakinkan bahwa bambu bukan material kelas dua, melainkan bahan bernilai dan berkelanjutan. Perlahan, konsistensi Micky membuahkan hasil. Sejak 2015–2016, MQ Art Bamboo berkembang melampaui fungsi usaha. Workshop yang awalnya digunakan untuk produksi kini dibuka sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Siapa pun yang ingin belajar pengolahan bambu, baik untuk keterampilan dasar, pengembangan produk, maupun persiapan membangun bisnis, dapat mengikuti workshop ini. Pendekatannya membumi: dari alat paling sederhana hingga pemanfaatan mesin dan teknologi digital. Lebih dari satu dekade berjalan, MQ Art Bamboo kini memiliki omzet sekitar Rp25–30 juta per bulan. Angka itu lahir bukan dari lonjakan instan, melainkan dari jatuh bangun, kegagalan yang berulang, serta keberanian untuk terus belajar. Menariknya, MQ Art Bamboo tidak bergantung pada penjualan daring. Kehadiran bisnisnya di sarana digital dipelihara sesuai keperluan saja, sementara pasar tumbuh dari relasi yang terbangun di lintas daerah seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, hingga Sumatra. Bahkan, produk bambu mereka telah menembus pasar Jepang dan Belanda, meski belum dalam skala besar. Lebih dari sekadar unit bisnis, MQ Art Bamboo membawa visi sosial yang kuat. Workshop yang dimiliki dibuka sebagai ruang pemberdayaan. Mulai dengan alat paling sederhana seperti cutter dan gunting, hingga mengenalkan mesin produksi dan teknologi AI pada mereka yang datang untuk belajar. Ke depan, MQ Art Bamboo menargetkan pengembangan fasilitas seperti CNC router dan UV printing agar dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas dampak pembelajaran dan bisnis bagi peserta workshop. Hari ini, MQ Art Bamboo bukan sekadar unit bisnis. Ia adalah ruang berbagi, tempat belajar, dan simpul kecil pemberdayaan. Dari alat-alat sederhana, hingga mesin dan teknologi AI, semua dipakai untuk satu tujuan: membuka jalan agar lebih banyak orang bisa berkarya dan mandiri. Kisah MQ Art Bamboo mengingatkan bahwa UMKM tidak sukses dari keajaiban. Ia tumbuh dari tangan yang terus bekerja, kebijakan yang mendukung, dan teknologi yang dipergunakan dengan bijak. Dari bengkel sederhana di Bogor, MQ Art Bamboo menunjukkan bahwa UMKM dapat bertahan melewati krisis, membuka peluang bagi orang lain untuk belajar dan berusaha, bahkan menembus pasar luar negeri. Seperti bambu yang menjadi napas usahanya: lentur menghadapi tekanan, kuat menahan beban, dan tumbuh perlahan namun pasti—MQ Art Bamboo menjadi cermin ketahanan UMKM Indonesia.
Katering Heti Terus Tumbuh dengan Gunakan AI hingga Suplai Dapur MBG Lansia

Hubungi Kami Katering Heti Terus Tumbuh dengan Gunakan AI hingga Suplai Dapur MBG Lansia Perjalanan sebuah usaha rumahan yang terus tumbuh hampir satu dekade ini, bukan hanya kisah tentang ketekunan pemiliknya. Tapi merupakan cermin dari bagaimana negara, pasar, dan teknologi, membentuk ekosistem yang membangun. Heti Hernawati merintis usaha kuliner dari rumah sejak 2017: mulai dari kue kering, katering harian, hingga layanan katering pernikahan. Dari dapur kecil itu, lahirlah Heti yang kini menjadi narasumber berbagai pelatihan UMKM, hingga turut andil dalam ratusan menu program makan bergizi gratis (MBG) untuk lansia. Bagi Heti, UMKM bertahan karena struggle, motivasi, dan adanya konsistensi. Ia merasakan langsung bahwa catatan pembukuan adalah fondasi. Usahanya sempat tidak bergerak— stagnant—karena catatan keuangan pribadi dan bisnis katering bercampur. Perubahan kondisi keuangan baru terjadi ketika ia perlahan memisahkan keduanya. Di titik itu, ia menyadari bahwa disiplin kecil yang dilakukannya menjadi pembeda antara UMKM yang ‘jalan di tempat’ dan yang terus bertumbuh. Teknologi digital salah satu alat yang membuka babak baru bagi Heti. ChatGPT, Gemini, dan berbagai perangkat AI bukan sekadar tren baginya. Mereka menjadi alat produksi yang mempermudah pembuatan materi promosi, PPT, tabel, hingga visual produk. Pelatihan yang ia ikuti hari itu di Bogor (12/11/25)—dengan kehadiran Staf Khusus Presiden Tiar Karbala dan Yovie Widianto—membuatnya semakin sadar bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan akselerator. UMKM seperti dirinya tidak perlu lagi bekerja sendirian, ada kebijakan membangun dan edukasi publik yang terus digalakan agar UMKM bisa melek teknologi dan tumbuh bersaing. Namun, di antara seluruh dukungan yang ia rasakan, satu kebijakan menempati tempat khusus dalam kisah Heti: program MBG. Sebagai penyedia makanan dalam program MBG Lansia, Heti menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kebijakan publik bisa mengubah dua sisi sekaligus: kualitas hidup penerima manfaat dan keberlanjutan ekonomi UMKM lokal. Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, dampaknya terasa sangat nyata. Setiap bulan jumlah lansia penerima manfaat bertambah, dan peningkatan itu secara langsung meningkatkan produksi usaha kulinernya. Heti turun langsung ke lapangan. Ia melihat para lansia yang sebelumnya kesulitan makan, hidup sendiri, atau tidak memiliki akses makanan layak, kini mendapatkan hidangan bergizi setiap hari. “Dulu mereka kesulitan untuk makan layak, sekarang bisa makan dengan enak,” ujarnya. Program ini baginya bukan hanya tepat sasaran, tetapi menyentuh sisi paling dasar dari kehidupan manusia: martabat untuk dapat makan layak setiap hari. Di sisi lain, MBG membuka rantai nilai baru yang menghidupkan UMKM daerah. Permintaan yang konsisten ini menciptakan arus produksi stabil—sesuatu yang sangat diidamkan UMKM kuliner. Bagi Heti, program ini meningkatkan omzet usahanya sebesar 20–30%, angka yang signifikan bagi usaha berskala mikro-kecil. MBG menciptakan kepastian permintaan yang selama ini jarang dimiliki pelaku berbagai pelaku usaha. Program MBG juga ‘memaksa’ UMKM untuk naik kelas dari sisi kualitas. Heti harus memastikan kualitas masakan, higienitas dapur, ketepatan waktu distribusi, hingga standar penyajian. MBG bukan hanya memberi pasar; ia memberikan standar—dan standar itulah yang mendorong UMKM untuk bertumbuh lebih profesional. Dari sudut pandang ekonomi kerakyatan, MBG menciptakan model gotong royong modern: pemerintah menyediakan kebijakan, UMKM menyuplai produksi, masyarakat menerima manfaat gizi, dan ekosistem lokal bergerak bersama. Program gizi ini bukan sekadar intervensi sosial, melainkan strategi ekonomi yang memutar roda produksi, menciptakan lapangan kerja, dan menguatkan daya hidup pelaku UMKM. Heti merasakan bahwa untuk pertama kalinya dalam waktu lama, UMKM seperti dirinya bisa stabil bukan karena ‘ada pesanan dadakan’, tetapi karena ada kebijakan negara yang memberi ruang tumbuh. Di akhir kisahnya, Heti memberikan pesan yang merefleksikan seluruh perjalanannya: jangan takut bermimpi, jangan takut berharap. Dari usaha rumahan kecil yang mengandalkan relasi terbatas, kini ia menjadi narasumber hingga keluar kota dan pulau, sambil terus menjalankan bisnis kuliner yang tumbuh bersama program pemerintah. Kisah Heti adalah bukti bahwa UMKM tidak hanya bertahan karena kerja keras individu. Mereka tumbuh ketika mimpi pribadi menemukan jalannya dalam kebijakan publik yang berpihak. Dan ketika itu terjadi, UMKM tidak sekadar menjadi tulang punggung ekonomi— mereka menjadi penggerak utama kesejahteraan rakyat. Most Recent Posts Katering Heti Terus Tumbuh dengan Gunakan AI hingga Suplai Dapur MBG Lansia Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Category <lidata-term-id=”16″> BERITA & PUBLIKASI (45) <lidata-term-id=”1″> UMKM & Teknologi (10)
Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia

Hubungi Kami Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia Tak banyak yang menyangka bahwa revolusi kecil dalam ekonomi kreatif Indonesiabisa lahir dari sesuatu yang nyaris dibuang. Dari tumpukan kain perca, potonganbrokat sisa pesta, hingga pernak-pernik kecil yang terselip di sudut meja. EXOBROOCH berdiri—membuktikan bahwa tumbuhnya bisnis justru bisa lahir dari benda sisa yang diremehkan. Kisah EXOBROOCH yang lahir dari tangan Bunga Maharani menjadi simbol bahwa masa depan Green Business sudah hadir. Dari limbah, ia menciptakan karya yang bukan hanya indah—tetapi membalikkan cara masyarakat memandang ‘sampah’. EXOBROOCH berdiri pada 2012 dari kebutuhan sederhana: sebuah bros untuk hijabkerja. Namun sejak awal, bahan bakunya tidak biasa. Kain sisa, brokat sisa, pitasisa, manik-manik sisa industri garmen, serta pernak-pernik kecil yang nyaris dibuang menjadi sumber utama produksi. Dari serpihan-serpihan kecil yang tak dianggap, Bunga merumuskan identitas EXOBROOCH: zero waste sebagai prinsip, bukanhanya slogan pemasaran. Di tangan Bunga, limbah kembali punya takdir. Sebuahbros menjadi simbol bahwa sisa bahan bukanlah akhir, melainkan awal dari ceritabaru yang lebih bernilai. Dalam forum panel diskusi “Ekonomi Kreatif dan UMKM di Era Kecerdasan Buatan” di Bogor pada Rabu (12/11/2025), Bunga menceritakan kisah perjalanan EXOBROOCH memperlihatkan lapisan cerita yang jarang ditangkap di permukaan. Mengenai bagaimana kreasi personal berkembang menjadi gerakan lingkungan, bagaimana pandemi membentuk ulang arah produksi, dan bagaimana kebijakannegara dalam digitalisasi perizinan mampu membuka ruang bagi pelaku usaha yang berbasis keberlanjutan. Pandemi yang sempat melumpuhkan banyak usaha justru menjadi momentum kebangkitan EXOBROOCH. Di saat ruang gerak terbatas, Bunga mengolah kembali kain perca dan brokat sisa menjadi masker double-layer Hellomask, mukena travel zero waste, hingga EXOBEBE, lini fesyen anak berbasis kain perca yang akhirnyamenembus runway nasional. Dari krisis, lahir kreativitas, dari keterbatasan, lahir keberlanjutan. Digitalisasi administrasi selama pandemi menjadi titik balik penting. Proses perizinan yang semula menghabiskan waktu kini ringkas. Program kurasi Smesco, inkubasi kementerian, dan pembukaan akses ke platform seperti Zalora serta TikTok Shop memberikan pijakan yang sebelumnya tidak tersedia bagi UMKM craft. Perubahanpaling nyata terjadi ketika Bunga mengikuti berbagai program yang disediakan oleh pemerintah. Mulai dari inkubasi UMKM hijau, pelatihan digitalisasi, kurasi craft nasional, hingga kompetisi keberlanjutan. Sejak mengikuti berbagai program-program pendampingan tersebut, usaha Bunga Mahanani mengalami perubahan yang ia sebut sebagai ‘loncatan terbesar’ sejak ia merintis bisnis kreatif berbahan kain sisa. Sebelumnya, Bunga bekerja sendirian, meraba-raba pasar, dan hanya mengandalkan pesanan kecil dari pelanggan sekitar. Program pendampingan membuatnya memahami bahwa produk ramah lingkungan yang ia buat sebenarnya memiliki nilai jual lebih tinggi—bukan hanya karena keunikannya, tetapi karena cerita keberlanjutannya. Melalui pelatihan pemerintah, Bunga belajar hal-hal mendasar yang selama ini luput: menghitung biaya dengan tepat, menentukan harga yang sesuai, dan merangkai cerita di balik setiap produk. Ia semakin berani menyatakan bahwa bros dan aksesori EXOBROOCH lahir dari kain perca, brokat sisa, dan pernak-pernik yang pernah dianggap tak berguna. Program-program pemerintah membuka pintu yang lebih luas. Kurasi UMKM, bazar resmi, dan workshop mempertemukannya dengan mentor serta pelanggan barudari berbagai kota. Kepercayaan dirinya tumbuh, ia tak lagi minder karena berbisnis dengan bahan sisa—justru bangga karena menyelamatkan limbah tekstil. Peluang demi peluang datang setelahnya. Melalui Program IP Management Clinicsdari WIPO membuka matanya bahwa setiap bros dan setiap desain punya nilai intelektual yang harus ia jaga. Kesempatan yang paling tak terduga tiba: JPO/IPRTraining Course for MSMEs di Tokyo, Jepang. Dari usaha yang berawal dari kain sisa, Bunga kini duduk di ruang pelatihan internasional, mempelajari cara duniamelihat keberlanjutan sebagai masa depan industri. Semua pengalaman itu menjadikannya lebih matang, lebih berani, dan lebih siap membawa EXOBROOCH melangkah melintasi batas. Baginya, dukungan negara bukan hanya pengetahuan, melainkan jendela pandang: bahwa usaha kecil dapat berdiri tegak di panggung global ketika diberi akses dan kesempatan. Kisah EXOBROOCH bukan sekadar cerita tentang bros, mukena, atau sulam berbahan sisa. Ini adalah bukti bahwa keindahan bisa lahir tanpa merusak bumi—bahkan mampu menghidupkan keluarga dan komunitas. Dari perjalanan Bunga kita belajar: ketika kesempatan dibuka dan keberlanjutan dijadikan arah, UMKM tidakhanya tumbuh—mereka dapat menginspirasi dan membentuk wajah baru ekonomi kreatif Indonesia yang lebih hijau. Most Recent Posts Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Category <lidata-term-id=”16″> BERITA & PUBLIKASI (29) <lidata-term-id=”1″> UMKM & Teknologi (9)
UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan

Hubungi Kami UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Suksesnya sebuah usaha yang dimulai dari dapur kecil mencapai panggung dunia bukan hanya soal ketekunan pengusahanya. Melainkan adalah cermin dari relasi antara rakyat, pasar, dan negara. Kisah Cucup Ruhiyat, Direktur PT Azaki Food International, yang berhasil membawa tempe Indonesia menembus 12 negara, patut dibaca bukan sekadar sebagai prestasi bisnis, tetapi sebagai penanda arah baru ekonomi kerakyatan di Indonesia: bahwa UMKM bukan lagi hanya tulang punggung, melainkan aktor utama yang dapat bersaing di ranah internasional ketika ekosistem kebijakan berpihak dan bekerja dengan baik. Dalam forum panel Ekonomi Kreatif dan UMKM di Era Kecerdasan Buatan di Bogor (12/11/2025), Cucup membagikan kisah yang berlapis antara perjuangan personal, realitas struktural, dan transformasi kebijakan publik. Ia menunjukkan bahwa perjalanan tempe Azaki, yang bermula pada 2005 dan baru perlahan bertransformasi pada 2016, bukanlah sekadar cerita usaha mikro yang naik kelas. Ini adalah narasi tentang bagaimana negara, melalui regulasi dan program seperti Makan Bergizi Gotong Royong (MBG), mampu mengembalikan martabat UMKM sebagai penopang ekonomi rakyat. Cucup merasakan sendiri bagaimana pandemi memadamkan banyak harapan, tetapi fase tersebut baginya justru menjadi ruang belajar baru. Ketika dunia menutup diri, ia membuka halaman baru: mendatangi berbagai sentra produksi tempe, Desa Sanan di Malang salah satunya, untuk mempelajari sistem produksi berskala besar. Saat itu tawaran dari eksportir datang. Disaat pengusaha tempe lain tidak menyanggupi karena rumitnya persyaratan. Dari berbagai perjalanan belajarnya, ia menyadari bahwa ekspor bukan soal keberanian semata, melainkan disiplin memenuhi standar mutu global—mulai dari BPOM, sertifikasi halal, hingga kelayakan higienis internasional. Cucup mengupayakan segala dokumen yang dibutuhkan dengan cermat. Peluang pertamanya datang bukan ketika dunia sedang stabil, tetapi ketika pandemi memaksa seluruh proses perizinan bertransformasi menjadi digital. “Pandemi justru membuat semuanya lebih mudah karena online urusnya, saya sangat terbantu” ujar Cucup. Di sinilah kita menyaksikan peran negara: bahwa kebijakan digitalisasi administrasi bukan hanya efisiensi prosedural, tetapi alat pemberdayaan yang mampu mengubah UMKM menjadi pemain global. Keberhasilan ekspor ke Jepang—yang kini menyebar ke Inggris, Korea Selatan, Australia, Arab Saudi, dan negara-negara Eropa—adalah wujud konkret kapasitas rakyat yang terbangun ketika negara membuka jalannya. Peran negara semakin tampak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keikutsertaan Azaki dalam memasok tempe sebagai sumber protein nabati untuk ratusan dapur MBG di lebih dari 15 kota, bukan hanya soal menyediakan bahan makanan. Ia menunjukkan sebuah model ekonomi baru: bahwa kebijakan publik—yang awalnya berorientasi pada gizi—dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan UMKM. “Satu rumah produksi kami bisa menyuplai lima hingga lima belas dapur MBG,” ungkap Cucup. Jika dikalikan ratusan dapur di berbagai wilayah, kita melihat bagaimana MBG membuka rantai nilai baru: petani kedelai semakin hidup, produsen tempe berkembang, tenaga kerja lokal terserap, dan industri pengolahan pangan masuk dalam orbit kebijakan nasional. Dalam kerangka gotong-royong ini, MBG terbukti bukan jadi sekadar program sosial. Melainkan menjadi strategi ekonomi kerakyatan yang menggandeng UMKM untuk masuk pada ekosistem. UMKM dalam hal ini tidak sekadar menjadi subjek pembinaan, tetapi turut menjadi aktor pembangunan ekonomi. Keberhasilan Azaki masuk pasar global patut diapresiasi. Ia mencapai nilai ekspor hingga 50.000 dolar AS (Rp828 juta) per kontainer, bahkan terus mendapat peningkatan permintaan menjadi tiga kontainer per bulan ke Jeddah. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM adalah fondasi daya saing global, bukan sekadar usaha mikro atau kecil yang dituntut dengan jargon ‘naik kelas’. Kisah inspiratif Cucup Ruhiyat lebih dari omzet yang meningkat setelah merambah ekspor maupun setelah suplai dapur MBG. Nilai yang terpenting adalah: bahwa negara, melalui kemudahan sertifikasi, digitalisasi OSS, hingga penyediaan jalur distribusi melalui program MBG, telah melaksanakan tanggung jawab moralnya terhadap UMKM. Bukan hanya entitas bisnis; mereka adalah penjaga kestabilan sosial, penyangga ekonomi keluarga, dan penggerak ekonomi lokal. Cucup menunjukkan bahwa seorang pelaku UMKM yang didukung kebijakan tepat dapat menjadi duta budaya kuliner Indonesia. Ketika ia berkata, “Kami inovasi orek tempe jadi bernama Protein Crunchy Bites,” Inovasi dari produk Azaki yang mudah diterima pasar global ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki UMKM yang mampu bersaing secara global—selama negara hadir di titik-titik krusial. Dalam dialognya, Cucup menutup dengan prinsip yang sederhana tetapi kuat: menjadi UMKM harus Palugada (apa lu mau, gua ada). Bagi sebagian orang, ini terdengar sebagai pragmatisme dagang. Namun, ketika negara memberikan perlindungan, membuka akses pasar, mempermudah sertifikasi, dan menyediakan ekosistem seperti MBG, maka prinsip Palugada berubah menjadi kekuatan: kemampuan UMKM untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan global tanpa kehilangan identitas lokal. Azaki Food International bukan sekadar prosuden tempe. Ia adalah metafora tentang bagaimana negara dapat memuliakan warganya dengan kebijakan yang berpihak. Dari kisah Azaki terbukti, bahwa ketika rakyat diberi kesempatan dan dukungan, mereka tidak hanya bertahan—mereka bisa tumbuh dan memimpin dunia. Most Recent Posts UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Torch.id Jadi Inspirasi, Tiar Karbala Serukan Pentingnya Data Intelligence bagi UMKM Category <lidata-term-id=”16″> BERITA & PUBLIKASI (29) <lidata-term-id=”1″> UMKM & Teknologi (8)
Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati

Hubungi Kami Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Sumedang — Awalnya merasa tidak percaya diri dengan produknya, tapi sekarang cara jualannya justru memberi banyak inspirasi. Keberhasilan pemasaran salah satu UMKM di Sumedang telah membuktikan bahwa bantuan Artificial Intelligence (AI) bisa melahirkan kisah sukses. Pelatihan AI telah mengubah sekelompok ibu-ibu pengusaha camilan berhasil mengubah gaya pemasarannya di sosial media. Di tengah pesona perbukitan Sumedang, terdapat sekelompok ibu-ibu tangguh yang tidak hanya pandai di dapur, tetapi juga mulai akrab dengan teknologi digital. Merek mereka dikenal sebagai Cemilan Teh Tati, produsen aneka camilan khas Sunda berbahan pisang, singkong, dan belut, yang sudah lama menjadi kebanggaan lokal. Awalnya, kegiatan promosi Cemilan Teh Tati masih dilakukan secara sederhana. Seperti foto produk yang hanya dengan latar polos, tanpa sentuhan visual profesional. Namun, semua berubah setelah tim UMKM ini mendapat kesempatan mengikuti agenda Acara AI Ignition Training yang dibimbing oleh salah satunya Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden bidang UMKM dan Teknologi Digital. Dalam pelatihan yang digelar di Sumedang itu, Tiar Karbala dan penyelenggara memperkenalkan berbagai cara AI dapat membantu UMKM tanpa perlu biaya besar, mulai dari membuat desain kemasan, menulis caption promosi, hingga menghasilkan gambar produk yang menarik dan estetik hanya dengan perintah teks sederhana. Salah satu peserta yang paling antusias adalah Teh Tati Rohayati, pendiri Cemilan Teh Tati. Ia langsung mencoba membuat gambar promosi dengan bantuan AI, yang menampilkan produk keripik singkong dan rangginang di ruang tamu modern dengan pencahayaan yang cantik. Hasilnya? Tampilan yang profesional dan menggugah selera, seperti yang kini tampak di akun Instagram mereka @cemilantehtati. Hasil implementasi AI itu bisa dilihat jelas: feeds Instagram Cemilan Teh Tati kini tampil lebih cerah, bersih, dan modern, seolah hasil foto studio profesional. Setiap unggahan kini memadukan elemen visual menarik dengan copywriting yang ringan dan menggugah, seperti: “Ini dia yang bikin betah di rumah!” “Dijamin bikin kriuk sampai gigitan terakhir!” Perubahan ini membuat tampilan Cemilan Teh Tati semakin dipercaya dan disukai konsumen muda, tanpa menghilangkan ciri khas lokalnya. Teh Tati mengaku awalnya tidak percaya diri. Namun setelah belajar bersama UMKM lainnya dalam Acara AI Ignition Training, ia menyadari bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperkuat kreativitas dan membantu pekerjaan. Kini, ia dan timnya bisa membuat konten promosi sendiri tanpa perlu menyewa fotografer atau desainer. Waktu yang tadinya habis untuk menyiapkan visual kini bisa digunakan untuk berinovasi dengan varian rasa baru. Kini, ia dan timnya bisa membuat konten promosi sendiri tanpa perlu menyewa fotografer atau desainer. Waktu yang tadinya habis untuk menyiapkan visual kini bisa digunakan untuk berinovasi dengan varian rasa baru. Belajar dari Sumedang untuk Indonesia, cerita Cemilan Teh Tati menjadi contoh nyata bagaimana transformasi digital bisa dimulai dari dapur sederhana. Dengan sentuhan AI dan semangat belajar tanpa batas, UMKM seperti mereka membuktikan bahwa teknologi tidak hanya milik mereka yang berbisnis di kota besar, tapi juga bisa hidup dan berkembang di desa. Most Recent Posts Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Torch.id Jadi Inspirasi, Tiar Karbala Serukan Pentingnya Data Intelligence bagi UMKM Kunjungi SCREAMOUS, Tiar Karbala Dorong Brand Lokal Tembus Pasar Global Category Liputan Media (13) UMKM & Teknologi (7)
Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan

Hubungi Kami Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Kuningan – Semangat digitalisasi semakin terasa di Kabupaten Kuningan. Ratusan pelaku usaha, aparatur sipil negara, pemuda, hingga penyandang disabilitas berkumpul dalam kegiatan AI Ignition Training yang digelar Pemerintah Kabupaten Kuningan pada 23–24 September 2025. Acara ini menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan kepada masyarakat, khususnya kelompok pelaku UMKM, agar mereka dapat memahami dan mempraktikkan langsung bagaimana kecerdasan buatan (AI) mampu membantu usaha berkembang. Dalam kesempatan tersebut, Tiar Karbala selaku Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital hadir untuk memberikan dorongan agar masyarakat lokal tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga memanfaatkannya secara maksimal. Pesan yang disampaikan menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan merupakan kunci penting agar UMKM mampu menyesuaikan diri dengan era ekonomi digital yang terus berkembang. Ditekankan pula bahwa dengan AI, para pelaku usaha bisa mengefisienkan biaya, meningkatkan kualitas tampilan produk, serta menjangkau pasar yang lebih luas. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa langkah nyata menuju UMKM naik kelas dan berdaya saing global sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu beradaptasi dengan teknologi. AI Ignition Training di Kuningan tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan seluruh peserta yang berjumlah 300 orang langsung diarahkan untuk melakukan praktik. Antusiasme terlihat dari berbagai hasil karya yang dihasilkan dalam sesi latihan. Para pelaku UMKM kuliner, misalnya, mencoba membuat tampilan visual produk mereka dengan kualitas setara foto studio. Gorengan yang biasanya terlihat sederhana berhasil divisualisasikan dengan minyak yang tampak bening, bersih, dan menggoda selera. Produk lain juga ditata dengan gaya profesional seakan menjadi bagian dari katalog modern. Bahkan, ada peserta yang membuat potret produk yang menampilkan nuansa elegan sehingga meningkatkan daya tarik konsumen secara signifikan. Semua ini dikerjakan dengan bantuan AI, tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa fotografer atau studio profesional. Keberhasilan praktik ini menjadi bukti bahwa AI tidak hanya sekadar konsep, tetapi dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat di lapangan. Pelatihan ini menunjukkan bahwa teknologi yang sering dianggap rumit sebenarnya bisa diakses dan dipraktikkan oleh siapa saja, termasuk UMKM di daerah. Transformasi digital bukan lagi sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak yang dapat mempercepat langkah pelaku usaha untuk berkembang. Kolaborasi dalam kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak yang memiliki peran penting. BRIN, KUMPUL Impact, hingga startup Videfly ikut hadir memberikan wawasan dan mendampingi peserta dalam memahami fungsi dan potensi AI. Diskusi panel yang diisi oleh praktisi dan akademisi menambah sudut pandang tentang bagaimana teknologi ini akan memengaruhi pola bisnis dan kebijakan di masa depan. Sesi praktik yang dijalankan bersama para trainer juga memperlihatkan bahwa penerapan AI bisa diaplikasikan secara sederhana dan hasilnya nyata. Dorongan untuk memanfaatkan AI ini sejalan dengan program pemerintah pusat yang berfokus pada penguatan daya saing UMKM. Dukungan dari lintas lembaga dijalankan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penjaringan aspirasi, business matching, hingga penghubungan langsung ke kebijakan nasional yang pro-UMKM. Semangat tersebut menegaskan bahwa pelaku usaha lokal tidak dibiarkan berjalan sendiri, melainkan didampingi dalam setiap langkahnya menuju pasar yang lebih luas. Antusiasme peserta di Kuningan menjadi gambaran bahwa semangat adaptasi teknologi telah tumbuh di berbagai lapisan masyarakat secara kolaboratif. Para pimpinan instansi pemerintahan di Kuningan juga bergerak mendukung program ini dengan hadir langsung mendampingi praktek penggunaan AI. Sehingga terbentuk forum terbuka yang mempertemukan pemerintah, akademisi, media, dan startup. Pola ini mencerminkan gaya kolaborasi “pentahelix” yang sering digadang-gadang dalam strategi pembangunan. Melihat hasil nyata yang ditunjukkan dalam pelatihan ini, diyakini bahwa langkah serupa akan terus diperluas ke berbagai daerah lain. Dengan adanya pelatihan seperti AI Ignition Training, UMKM tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman langsung yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas usaha sehari-hari. Semakin banyak pelaku usaha yang mampu memanfaatkan teknologi, semakin kuat pula fondasi untuk mendorong ekonomi digital Indonesia agar lebih inklusif dan kompetitif. Tujuannya jelas, yakni menciptakan lebih banyak pelaku UMKM yang siap menghadapi tantangan zaman, berdaya saing tinggi, serta berpeluang besar menembus pasar global. Dari Kuningan, semangat digitalisasi ini diharapkan menyebar ke berbagai daerah lainnya, membawa UMKM Indonesia naik kelas dengan dukungan penuh teknologi kecerdasan buatan. Social Media @officialtiarkarbala Tiar Karbala
Torch.id Jadi Inspirasi, Tiar Karbala Serukan Pentingnya Data Intelligence bagi UMKM

Hubungi Kami Torch.id Jadi Inspirasi, Tiar Karbala Serukan Pentingnya Data Intelligence bagi UMKM Bandung – Jalan Lembong selalu ramai oleh geliat industri kreatif, dan di salah satu sudutnya berdiri Torch.id, sebuah brand lokal yang terus menanjak berkat tangan dingin Ben Wirawan. Sebagai pendiri, Ben menegaskan bahwa keberhasilan Torch tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari konsistensi dalam membaca data, memahami perilaku konsumen, serta menitikberatkan riset dalam setiap produk yang diluncurkan. Dalam pertemuan hangat di Bandung, Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, berkesempatan berbincang dengan Ben tentang dinamika bisnis lokal yang semakin kompetitif. Dari pembicaraan itu mengemuka satu hal penting: tanpa pengelolaan data yang cermat, mustahil bagi sebuah brand bisa berkembang secara berkelanjutan. Data intelligence dianggap sebagai senjata utama untuk memahami tren, menyelami preferensi pelanggan, serta mengukur sejauh mana produk mampu menjawab kebutuhan pasar. Torch.id menjadi contoh nyata bagaimana kepekaan terhadap keinginan customer mampu membawa brand lokal menembus persaingan. Ben menjelaskan bahwa setiap produk tidak pernah diluncurkan tanpa melewati riset mendalam. Mulai dari desain, material, hingga gaya yang ditawarkan, semuanya diuji melalui analisis data perilaku konsumen. Dengan cara itu, Torch tidak hanya menjual barang, tetapi juga menghadirkan solusi sesuai harapan pembeli. Strategi inilah yang membuat produk Torch diterima pasar dengan baik dan memiliki basis pelanggan yang loyal. Tiar Karbala menilai pendekatan yang dilakukan Torch.id patut menjadi rujukan bagi UMKM lain. Di tengah gempuran tren digital, UMKM sering tergoda untuk hanya mengikuti arus tanpa benar-benar mendengarkan suara konsumen. Padahal, sebagaimana ditunjukkan Torch, data dapat menjadi kompas yang mengarahkan pengembangan produk agar lebih tepat sasaran. Dengan memanfaatkan data intelligence, pelaku usaha bisa menekan risiko kegagalan, meningkatkan efisiensi biaya, serta mempercepat proses inovasi. Kepada para pelaku usaha lokal, Tiar menyampaikan rekomendasi agar UMKM mulai mengadopsi pendekatan data-driven dalam pengembangan produk. Dengan begitu, setiap keputusan bisnis tidak lagi hanya berdasarkan intuisi, melainkan ditopang oleh informasi nyata tentang pasar. Di era di mana preferensi konsumen berubah begitu cepat, kemampuan membaca data menjadi modal penting agar UMKM mampu bertahan dan berkembang. Pertemuan dengan Torch.id menegaskan bahwa brand lokal Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh jika berani berinvestasi pada riset dan data. Bandung sebagai kota kreatif kembali membuktikan dirinya sebagai rumah bagi gagasan-gagasan segar, di mana semangat kewirausahaan dipadukan dengan strategi berbasis informasi. Dari Jalan Lembong, pesan itu menggaung: UMKM Indonesia harus bertransformasi, memanfaatkan data sebagai bahan bakar utama agar dapat bersaing di kancah nasional maupun global. Social Media @officialtiarkarbala Tiar Karbala
Kunjungi SCREAMOUS, Tiar Karbala Dorong Brand Lokal Tembus Pasar Global

Hubungi Kami Kunjungi SCREAMOUS, Tiar Karbala Dorong Brand Lokal Tembus Pasar Global Bandung – Bandung memang tempatnya orang kreatif. Industri kreatif di Bandung sudah terkenal di level nasional atau bahkan internasional. Industri kreatif di kota kembang bisa hidup dan bertumbuh tak lepas dari aktor utama industri kreatif, yaitu pelaku usaha yang gigih merintis usahanya. Selain kegigihan merintis usaha, sisi branding juga diperhatikan oleh palaku usaha kreatif di Bandung.. Salah satu brand asal Bandung yang sudah berdiri lebih dari 20 tahun adalah Screamous. Brand Screamous bisa berkembang karena tangan dingin Nino Norman, sang brand owner., Setelah dua dekade berdiri, sekarang brand fashion ini telah memiliki customer yang sangat loyal. Jumlah follower Screamous sudah hampir tiga ratus ribu di instagram. Follower di sosial media itu juga cukup antusias terhadap gebrakan-gebrakan brand Screamous. Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, berkesempatan mengunjungi outlet Screamous di Bandung pada akhir Juli 2025 kemarin. Pada kesempatan yang hangat tersebut, Tiar karbala menyempatkan berbincang dengan Brand Owner Screamous, Nino Norman. Dalam perbincangan itu, mereka saling bertukar pendapat tentang iklim usaha UMKM lokal. Kepada pelaku usaha lokal, Tiar Karbala mendorong brand mereka untuk go global. Untuk menembus pasar global, Tiar menyebut kualitas produk harus menyesuaikan standar internasional. Kualitas bahan, desain, dan pelayanan harus memuaskan. Dorongan yang disampaikan oleh Tiar Karbala tersebut sesuai dengan apa yang dilaksanakan pemerintah pusat. Pemerintah pusat gencar membantu UMKM Lokal untuk go global, salah satunya melalui kegiatan UMKM BISA Eksport. Program ini berisi ratusan rangkaian kegiatan business matching yang mencocokkan kebutuhan buyer luar negeri dengan penawaran dalam negeri. Saran dari Tiar disambut dengan positif oleh Nino Norman. Screamous berusaha menyesuaikan dengan berbagai potensi yang ada. Saat trend digital mulai naik, Screamous merancang strategi untuk masuk dalam iklim digital. Maka tidak heran, follower di sosial media cukup banyak (282 ribu di instagram dan 299 ribu di tiktok). Selain di sosial media, follower Screamous di marketplace juga sangat banyak (1,8 juta follower di Shopee).. Puluhan ribu produk Screamous dapat terjual melalui marketplace. Perkembangan zaman ke arah brand global juga dilakukan oleh Screamous. Kualitas produk didesain sesuai standar ekspor. Penekanan pada produk berkualitas ekspor itu dicantumkan oleh Screamous dalam branding di sosial media dan marketplace. Terakhir, selaku Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Karbala meyakinkan pelaku usaha bahwa pemerintah pusat akan mendukung setiap langkah UMKM menapaki pasar global. Dukungan tersebut dilakukan oleh lintas lembaga, serta melalui aneka macam karya nyata. Karya nyata tersebut mulai dari penjaringan aspirasi, dukungan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, business matching dan link ke kebijakan pemerintah yang pro-UMKM. Social Media @officialtiarkarbala Tiar Karbala
Tiar Karbala: Fintech Harus Jadi Solusi bagi UMKM, Bukan Hanya Sekadar Tren Digital

Hubungi Kami Tiar Karbala: Fintech Harus Jadi Solusi bagi UMKM, Bukan Hanya Sekadar Tren Digital Jakarta – Perkembangan teknologi digital membawa kemudahan di berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor keuangan. Salah satu tren yang tengah berkembang adalah penyaluran dana melalui aplikasi digital. Fenomena ini memberikan manfaat signifikan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk meningkatkan produktivitas. Penyaluran dana melalui platform keuangan digital tercatat telah mencapai puluhan triliun rupiah pada 2024. Dana tersebut disalurkan baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif. Namun, penyaluran untuk tujuan produktif baru berkisar 40-50 persen, jauh di bawah target 70 persen yang ditetapkan dalam Peta Jalan P2P Lending oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aspirasi ini disampaikan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) ketika beraudiensi dengan Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala. Audiensi berlangsung pada tanggal 12 Agustus 2025. Pada audiensi tersebut, AFPI diwakili Ketua Entjik Djafar dan Direktur Eksekutif Jasmine Sembiring, bersama sejumlah pelaku industri fintech. Mereka juga mengapresiasi langkah pemerintah yang tegas membedakan pelaku usaha legal dan ilegal. Selain itu, AFPI juga mendukung rebranding istilah financial technology menjadi “pindar” atau Pinjaman Dalam Jaringan. Istilah pindar digunakan menggantikan istilah “pinjol” yang berkonotasi negatif. Menanggapi hal tersebut, Tiar Karbala menekankan bahwa fintech harus menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Fintech diharapkan secara khusus dapat mengatasi keterbatasan pendanaan UMKM. “Fintech harus membantu UMKM yang kurang produktif menjadi lebih produktif. Jangan sampai kendala pendanaan justru menghambat operasional usaha mereka,” ujarnya. Tiar juga mengingatkan agar perkembangan fintech tidak berhenti sebatas tren digital. Ia menilai lonjakan penyaluran dana melalui aplikasi digital, terutama sejak pandemi, sering kali membuat aspek mitigasi risiko dan profil debitur kurang optimal. “Pengalaman ini seharusnya menjadi pelajaran penting. Industri dan regulator perlu duduk bersama untuk mencari solusi, khususnya dalam memperkuat akses pendanaan UMKM melalui fintech,” kata Tiar. Social Media @officialtiarkarbala Tiar Karbala
