Omzet Tinggi UMKM di Ramadhan hingga Lebaran: Momentum Lonjakan Konsumsi dan Digitalisasi

Hubungi Kami Omzet Tinggi UMKM di Ramadhan hingga Lebaran: Momentum Lonjakan Konsumsi dan Digitalisasi Sumber : https://makassar.antaranews.com/berita/587549/festival-ramadhanbangkit-di-bantaeng-mencapai-omzet-rp1-miliar Sumber : https://pajak.go.id/id/node/114750 Sumber : https://kronologi.id/2025/03/27/umkm-catat-omzet-rp-24-miliar-di-ramadhan-fest-2025/#google_vignette Sumber : https://linkumkm.id/news/detail/15812/ramadan-sebagai-peluang-emas-untuk-umkm-dan-bisnis-online-tingkatkan-penjualan Sumber : https://jatengprov.go.id/beritadaerah/omzet-festival-kampung-ramadan-2025-di-rembang-tembus-rp16-miliar/ Sumber : https://sirclo.com/press/jelang-ramadan-2024-pahami-pola-belanja-konsumen-dan-optimalkan-bisnis-online Sumber : https://ukmindonesia.id/baca-deskripsi-posts/fenomena-omzet-penjualan-umkm-di-bulan-ramadhan-tembus-hingga-rp-1-miliar-tapi-ada-juga-yang-turun-hingga-40-persen Periode Ramadan dan Idul Fitri merupakan salah satu momentum ekonomi musiman yang sangat penting bagi pelaku UMKM di Indonesia. Terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat yang signifikan meningkat, dimana penggunaan teknologi digital juga turut berperan, sehingga lonjakan omzet UMKM dapat dengan jelas dirasakan. Dari perspektif makro ekonomi, peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadan dapat dilihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Konsumsi rumah tangga di Indonesia meningkat signifikan selama Ramadhan 2021-2023, mencapai lebih dari 5% pada Kuartal II dengan puncak 5,93% pada 2021. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya belanja masyarakat untuk kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri. Sebaliknya, setelah Ramadhan (Kuartal III), konsumsi menurun menjadi sekitar 1,20%–1,55%. Kondisi ini menciptakan lonjakan permintaan pasar yang memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi banyak pelaku UMKM. Struktur konsumsi selama Ramadan memiliki karakteristik ekspansif yang mendukung transmisi stimulus ekonomi. Analisis ekonometrik dari Kementerian Keuangan (2025) dalam tulisan tentang “Deflation, Ramadan, and Fiscal Incentives: Weaving Hope Amid Indonesia Economic Challenges” menunjukkan bahwa efek pengganda pengeluaran konsumsi selama Ramadan mencapai 1,6 – 1,8, lebih tinggi dibandingkan periode normal yang hanya mencapai 1,3 – 1,5. Ini berarti setiapkenaikan Rp1 triliun dalam konsumsi selama Ramadan berpotensi menghasilkan pertumbuhan output ekonomi sebesar Rp1,6 – 1,8 triliun. Selain peningkatan konsumsi secara langsung, transformasi digital juga turut memperkuat peluang peningkatan omzet UMKM selama Ramadan. Data perusahaan e-commerce Sirclo pada tahun 2024 menunjukkan bahwa transaksi belanja online meningkat hingga 76,5% selama Ramadan, sementara jumlah konsumen yang berbelanja meningkat sebesar 23,5% dibandingkan periode biasa. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan platform digitalmemberikan saluran baru bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar mereka selama periode permintaan tinggi. Sejumlah penelitian juga memperlihatkan dampak signifikan Ramadhan terhadap peningkatan pendapatan pelaku UMKM. Sekitar 63-70% pelaku UMKM mengalami peningkatan permintaan dibandingkan periode normal. Dalam beberapa kasus, omzet harian pelaku usaha kuliner meningkat dari sekitar Rp300 ribu menjadi Rp700ribu per hari selama Ramadan. Pada kasus kegiatan ekonomi lokal dalam Festival Ramadan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, misalnya. Sekitar 80 UMKM dapat menghasilkan omzet lebih dari Rp1 miliar dalam waktu 14 hari penyelenggaraan. Contoh lain dapat dilihat pada UMKM kuliner skala mikrodi Sukabumi yang biasanya memperoleh omzet sekitar Rp30-40 juta per bulan, namun selama Ramadan omzetnya meningkat hingga tiga kali lipat. Meskipun Ramadan memberikan peluang peningkatan omzet, pelaku UMKM juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan modal kerja untuk meningkatkan produksi ketika permintaan meningkat. Selain itu, kenaikan harga bahan baku selama Ramadan seringkali meningkatkan biaya produksi sehingga dapat menekan margin keuntungan pelaku usaha. Persaingan usaha juga menjadi lebih ketat karena banyak pelaku usaha baru yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk membuka usaha musiman. Penelitian dari beberapa sumber menyebutkan peningkatan omzet UMKM selama Ramadan dapat dianalisis melalui beberapa indikator utama. Pertama, indikator kinerja penjualan: mencakup pertumbuhan omzet, peningkatan jumlah transaksi, serta peningkatan volume produk yang terjual selama Ramadan dibandingkan periode normal. Kedua adalah indikator permintaan pasar, seperti frekuensi pembelian, jumlah pesanan khusus, serta peningkatan kunjungan pelanggan. Menariknya, indikator ketiga yang merupakan strategi pemasaran, dilakukan pelaku usaha dengan berbagai kreativitas mulai dari pemberian diskon atau bundling produk, hingga endorsement di media sosial dan marketplace. Keempat, indikator inovasi produk yang juga memunculkan berbagai trend baru di masyarakat, seperti menu baru berbuka puasa yan viral, produk limitied edition edisi Ramadan, atau paket hampers mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Dengan demikian, Ramadan tidak hanya merupakan fenomena religius, tetapi juga fenomena ekonomi musiman yang mampu mendorong pertumbuhan pendapatan UMKM secara signifikan, juga menghidupkan aktivitas digitalisasi dalam berbagai metode pemasaran. Oleh karena itu, penguatan kapasitas UMKM melalui digitalisasi, inovasi produk, akses pembiayaan, serta dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dari momentum Ramadan dan Idul Fitri. Most Recent Posts IF7F Diresmikan, Football 7 Indonesia Bidik Panggung Dunia 2026 IF7F Lahirkan Era Baru: Sepak Bola 7 Indonesia Menatap Panggung Dunia IF7F Resmi Diluncurkan, Indonesia Masuk Panggung Dunia Football 7 Indonesia Football 7 Federation Resmi Diluncurkan, Siap Ukir Sejarah di Level Internasional Category BERITA & PUBLIKASI (73) UMKM & Teknologi (16)
Kisah Naik Kelas YM Project: Dari Jualan Aksesoris Handmade di Sekolah hingga Viral di Pasar Digital

Hubungi Kami Kisah Naik Kelas YM Project : Dari Jualan Aksesoris Handmade di Sekolah hingga Viral di Pasar Digital Garut – Di sebuah ruang kerja, manik-manik kecil berjajar rapi di atas meja. Kilauan hiasanhiasan kristal berpendar terkena cahaya lampu, sebagian telah disusun menjadi kalung, gelang, hingga bros dengan detail halus. Ratusan influencer TikTok telah turut promosikan produk-produk cantik itu melalui marketing afiliasi. Bahkan kalung kristal sempat menempati posisi teratas di kategori marketplace dan ramai diperbincangkan jagad sosial media. Di balik viralnya produk aksesoris cantik bernama YM Project, ada kesabaran dan ketelitian seorang perempuan yang sejak remaja tak pernah jauh dari dunia jualan. Ia adalah Yasinta Maris, founder dari YM Project yang kalung kristalnya kini banyak digandrungi anak muda hingga ibu-ibu yang ingin tampil elegan namun tetap trendi. Sejak tumbuh pesat dari 2021,tim pekerja terus bertambah. Kini, YM Project melibatkan jaringan pengrajin dan menciptakan ekosistem produksi yang bertumbuh dari berbagai rumah kreatif. Tak banyak yang tahu, perjalanan YM Project tidak dimulai dari workshop atau strategi bisnis yang matang. Semuanya berawal dari bangku sekolah. Sejak SD hingga SMA, Yasinta sudah terbiasa berjualan kecil-kecilan. Bagi dirinya, jualan bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan naluri yang tumbuh alami. Saat duduk di kelas 1 SMA, ia mulai merintis usaha kecil yang menjadi cikal bakal YM Project. Produk awalnya sederhana: gelang custom untuk remaja. Ia menawarkan langsung ke teman-teman sekolah dan mencatat pesanan secara manual. Tanpa sadar, dari situlah ia telah belajar membaca pasar. Setelah lulus SMA, Yasinta mengambil keputusan berani: tidak melanjutkan kuliah dan memilih fokus berjualan. Tahun 2016, ia resmi meluncurkan YM Project sebagai brand aksesoris handmade lokal asal Garut, yan lini produknya masih berpusat pada gelang.Namun, seiring waktu, ia mulai bereksperimen dengan bahan lain seperti akrilik dan tali kepang. Inovasi-inovasi kecil menjadi cara Yasinta menjaga produknya tetap relevan ditengah perubahan selera pasar. Pandemi menjadi fase ujian berikutnya. Ia mencoba membaca tren baru dengan merilis strap masker dari manik-manik. Meski sempat melakukan promosi dan endorse, langkahnya tergolong terlambat. Hasilnya tidak besar, bahkan nyaris hanya balik modal. Namun, titikbalik YM Project justru datang menjelang Lebaran. Yasinta mencoba sesuatu yang baru, kalung kristal handmade. Saat itu, pasarnya belum ramai. Produk tersebut lahir dari eksperimen sederhana, tetapi justru menjadi lonjakan terbesar dalam perjalanan bisnisnya. Kalung kristal perlahan menjadi identitas baru YM Project. Pesanan meningkat, jangkauan pasar meluas, danproduknya mulai dikenal di marketplace serta media sosial TikTok dan Instagram (@by.ymprojects). Meski Yasinta mengaku dirinya adalah seorang introvert dan tidak banyak tampil di ruang publik, tapi ia memilih menyalurkan ekspresi lewat karya. Menurutnya, merangkai manik-manik bukan sekadar produksi, melainkan bentuk ekspresi diri, atau disebutnya, “Caraberkarya tanpa banyak bicara..”. Dibalik strategi digital dan pertumbuhan penjualan, Yasinta memegang prinsip sederhana. Ia banyak belajar dari nilai agama, kesabaran, dan keyakinan. Ia juga gemar mempelajari psikologi dan pengembangan diri, sebagai bekal menjaga mental dalam perjalanan usahayang naik turun. Bagi Yasinta, aksesoris bukan sekadar hiasan dalam fashion. Ia ingin setiap produk YM Project membawa makna: tentang ekspresi diri, harapan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Setiap rangkaian kristal yang ia susun menyimpan perjalanan panjang: dari jualan disekolah, jatuh bangun membaca tren pasar, hingga bertumbuh menjadi brand handmade yang dikenal luas. Dari Garut, YM Project menjadi bukti bahwa usaha besar bisa lahir dari inovasi kecil yang dijalani dengan sabar. Bahwa ketekunan, keberanian mencoba, dan keyakinan bertumbuh akan mampu mengubah hobi sederhana menjadi karya-karya cantik penuh makna, bukan sekadar pelengkap gaya. Most Recent Posts IF7F Diresmikan, Football 7 Indonesia Bidik Panggung Dunia 2026 IF7F Lahirkan Era Baru: Sepak Bola 7 Indonesia Menatap Panggung Dunia IF7F Resmi Diluncurkan, Indonesia Masuk Panggung Dunia Football 7 Indonesia Football 7 Federation Resmi Diluncurkan, Siap Ukir Sejarah di Level Internasional Category BERITA & PUBLIKASI (73) UMKM & Teknologi (15)
Kisah Bertumbuh Maliva Collection: Dari Strap Masker ke Aksesoris Indah Batu Alam Kustom

Hubungi Kami Kisah Bertumbuh Maliva Collection: Dari Strap Masker ke Aksesoris Indah Batu Alam Kustom Bogor – Di sebuah sudut meja kerja sederhana, manik-manik kecil berkilau terkenacahayalampu. Batu-batu berkilau nuansa alam tersusun rapi, sebagian sudah terangkai menjadi gelang, bros, dan cincin dengan detail rinci dan menawan. Dalam sebulan, iamampumemproduksi lebih dari 500 hingga 1000 pieces aksesoris. Pesanan cincin sederhanabisamencapai lebih dari 100 buah per hari. Di balik ketelitian itu, duduk seorang perempuanyang dahulu tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pelaku UMKM. Ia adalahLina, pemilik Maliva Collection. Lina tidak pernah berhenti mengupayakan usahanya agar terus tumbuh. Ia mengikuti berbagai pendampingan dari Dinas UMKM, mempelajari pentingnya legalitas usaha, pembuatan NIB, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual. Pelatihan demi pelatihanyang diikutinya awalnya terasa rumit, tetapi perlahan Lina memahami bahwa usahatidakcukup hanya dengan bisa membuat produk. Perlu ada strategi khusus, pencatatan, inovasi, dan keberanian untuk tampil di pasar. Dalam agenda pelatihan Bogor (12/11/25) yang dihadiri Tiar Karbala, Staf Khusus PresidenBidang UMKM dan Teknologi Digital, Lina belajar semakin banyak. Perkembangannyasangat terasa ketika ia mengikuti pelatihan tersebut yang mengenalkan pemanfaatan AI. Jika dulu ia harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa model foto produk, kini ia dapat memanfaatkan teknologi untuk promosi lewat visual yang menarik, analisis kompetitor, hingga strategi bundling bisnis. Baginya, teknologi sama sekali bukanlah ancaman, justrumerupakan alat bantu untuk UMKM seperti dirinya bisa cepat naik kelas. Suatu ketika, Lina akhirnya mengambil kesempatan mengikuti pameran, yang akhirnyamenjadi titik balik penting. Di sana ia belajar bahwa teori berbeda denganpraktik. Berhadapan langsung dengan pembeli membuatnya memahami selera pasar, melihat realitadaya saing, dan pentingnya komunikasi produk. Ia menyadari bahwa marketing fisiktidakbisa dipisahkan dari marketing secara online. Di rumah, ia mendapat dukungan dari anaknya yang membantu mengelola akun Instagramdan TikTok, bernama @maliva.collections. Pelanggan yang awalnya membeli di pameranmulai mengirim pesan melalui direct message (DM). Mereka meminta warna berbeda, desain-desain khusus, bahkan kombinasi batu antik tertentu. Dari situlah Lina menemukankekuatan produknya: free-custom dan keunikan. Meski demikian, ia juga menyadari tantangan besar di sektor kerajinan. Berbedadenganproduk massal, aksesoris handmade tidak bisa disamakan dengan produksi pabrik. Setiapitem memiliki keunikan dan tidak selalu bisa dibuat dalam jumlah besar secara instan. Iabersaing dengan produk murah dan massal di pasaran, tetapi memilih bertahanpadakualitas dan nilai. Tahun 2021 adalah awal perjalanannya yang bahkan saat itu belummemahami apa arti UMKM. Lina saat itu masih menjadi seorang ibu rumah tangga yang memiliki keinginansederhana untuk mengisi waktu luang dengan membantu ekonomi keluarga. Produk pertamanya pun lahir di tengah situasi pandemi: strap masker handmade. Sederhana, terbatas, dan belum banyak dilirik pasar. Di tengah suramnya usaha-usaha yang jatuh di masa pandemi, perlahan ia mulai mengembangkan varian gelang, bros, cincin, hingga aksesoris berbahan batu-batu alam dan tembaga. Setiap detail dikerjakan dengan tangan. Ada produk yang selesai dalam hitungan jam, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu berhari-hari karena detilnya yang mendalam. Nilai produknya bukan sekadar bahan baku, melainkan juga tingkat kerumitandan sentuhan personal yang bermakna di dalamnya. Bagi Lina, aksesoris bukan sekadar pelengkap penampilan. Ia ingin produknya memberi rasa percaya diri, kebanggaan, dan kesan elegan bagi yang memakainya. Hingga, suatu hari datang ajakan kolaborasi dengan pelaku usaha garmen yang tertarik menggabungkanaksesoris Lina dengan produknya. Di balik semua itu, Lina memegang tiga prinsip sederhana: konsisten, disiplin, dan semangat. Ia percaya UMKM bisa bertahan dalam kondisi apa pun jika pelakunya terus belajar dantidak berhenti bergerak. Dukungan pemerintah penting, tetapi dorongan terbesar harusdatang dari dalam diri. Kini, ia rutin mengikuti pameran di pusat perbelanjaan seperti Botani Square dan berkeliling ke sekolah serta kampus. Dari seorang ibu rumah tangga yang tak mengenal istilah UMKM, Lina tumbuh menjadi pengusaha aksesoris handmade yang mandiri dan adaptif terhadap zaman. Di setiaprangkaian batu cantik yang ia susun, tersimpan kisah tentang keberanian untuk memulai, kesabaran bertumbuh, dan keyakinan kuat. Bahwa usaha akan menemukan jalan indahnyajika terus dengan sungguh-sungguh dirawat Social Media @officialtiarkarbala Tiar Karbala
Kisah Ketangguhan Nur Azizah: Berkarya di Kantin Kampus hingga Gudang Ribuan Telur Asin Bebek Angon

Hubungi Kami Kisah Ketangguhan Nur Azizah: Berkarya di Kantin Kampus hingga Gudang Ribuan Telur Asin Bebek Angon Uap panas mengepul dari panci besar di sudut sebuah rumah produksi sederhana. Ratusan telur bebek tersusun rapi, siap direbus. Aroma gurih khas telur asin memenuhi ruangan, menyatu dengan kesibukan tangan-tangan yang tak pernah berhenti bekerja. Di balik aktivitas itu, berdiri sosok perempuan tangguh bernama Nur Azizah, seorang pelaku UMKM yang membangun usahanya dari kegigihan, kegagalan, dan keberanian untuk belajar. Azizah dulu seorang pengusaha katering yang sempat bangkrut karena persaingan usaha di Bogor, kini sudah dengan canggih mengelola bisnis telor asinnya menggunakan bantuan AI. Ia kini telah mampu memproduksi hingga belasan ribu butir setiap bulan. Dalam acara pelatihan UMKM di Bogor (12/11/25), ia menyatakan bahwa AI sangat mempermudah bisnisnya, mulai dari strategi pemasaran bahkan hingga ke level perbaikan kualitas produksi. Namun, posisi suksesnya itu ditempuh melalui jatuh bangun dan pembelajaran. Sebelum dikenal sebagai pemilik Telur Asin Bebek Angon Siragil Kaizer, Azizah menghabiskan hidupnya selama lebih dari lima belas tahun di dunia katering dan kantin kampus. Sejak tahun 2003, ia melayani mahasiswa, acara universitas, dan berbagai kegiatan akademik. Dapurnya selalu ramai. Pesanan datang silih berganti, dan di masatersebut hidupnya terasa stabil. Namun, dunia usaha tidak selalu berjalan sesuai rencana. Perlahan, kompetitor bermunculan dan sistem pengelolaan kantin berubah. Mall dan pusat perbelanjaan mengambil alih ruang usaha kecil di Bogor. Pesanan katering menurun, pelanggan tetap satu per satu menghilang, hingga akhirnya pada 2018 Nur Azizah harus menutup usaha katering yang ia bangun dengan penuh keringat. Saat itu hatinya sempat terasa kosong. Namun hidup tidak memberi pilihan untuk berhenti. Ia percaya, selama masih ada kemauan dan harapan, jalan selalu bisa dicari. Harapan itu datang dari hal yang sederhana: suaminya bekerja di Cikampek, daerah peternakan bebek angon yang dilepas bebas tanpa pakan kimia. Dari sanalah muncul ide yang kelak mengubah hidupnya, membuat telur asin dari bebek angon. Ia memulai sebagai reseller kecil-kecilan. Penjualan awalnya sekitar 150 butir setiap dua minggu, dijual ke warung, pasar, dan pelanggan satu per satu. Tanpa strategi pemasaran atau hitung-hitungan rumit, ia hanya yakin bahwa usaha yang dikerjakan dengan sungguhsungguh akan menemukan jalannya. Pesanan pun perlahan meningkat menjadi 300 butir Namun pertumbuhan itu membawa masalah baru. Ketergantungan pada produsen membuat kualitas tidak selalu terjaga. Telur yang belum siap panen sering berujung busuk dan memicu komplain. Kerugian yang dirasakan bukan hanya soal uang, tetapi juga rasa malu dan kepercayaan pelanggan yang mulai terkikis. Di titik itu, Nur Azizah sadar bahwa ia tidak bisa terus bergantung pada orang lain. Ia mungkin belum paham betul proses produksi, tapi ia mengerti satu hal: jika ingin bertahan, ia harus memegang kendali sendiri. Dengan berbekal rasa ragu dan takut gagal, ia mulai memproduksi telur asin secara mandiri. Dua bulan pertama terasa berat. Banyak telur gagal, terlalu asin, kurang awet, dan komplain datang silih berganti. Meski begitu, ia tidak menyerah. Setiap keluhan dicatat, setiap kegagalan dipelajari. Alhasil, ia semakin pintar memilih telur bebek yang baik, menentukan lama perendaman, dan teknik perebusan yang tepat. Kualitas telur asinnya pun perlahan semakin membaik. Pelanggan menyatakan telurnya kini lebih gurih, tidak amis, dan rasanya pas. Tanpa ia sadari, produknya berkembang menjadi telur asin premium. Produksi yang awalnya ratusan butir perbulan kini mencapai belasan ribu. Tahun 2023, ia mengikutiprogram pendampingan UMKM dari Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat. Di sana, ia belajar pemasaran digital, e-commerce, dan pencatatan keuangan, serta banyak hal-halyang dulu terasa jauh dan rumit. Saat ini, sosial media instagram @telurasin.bogor selalu aktif dan menjadi inspirasi pengusaha telur asin lainnya. Nur Azizah juga kini tidak lagi bekerja sendirian di dapur kecilnya. Ia memiliki rumah produksi, karyawan, dan kurir. Usahanya bukan hanya menopang keluarganya, tetapi juga memberi penghidupan bagi orang lain. Setiap pagi, saat ia menyalakan kompor dan menyusun telur ke dalam panci, ia tahu bahwa yang ia rawat bukan sekadar usaha telur asin, melainkan mimpi yang tumbuh dari kesabaran dan keberanian untuk terus melangkah. Seperti telur bebek angon yang direbus perlahan, usahanya dirawat penuh kesabaran untuk menuju kesuksesan. Most Recent Posts Kisah Naik Kelas YM Project: Dari Jualan Aksesoris Handmade di Sekolah hingga Viral di Pasar Digital Kisah Bertumbuh Maliva Collection: Dari Strap Masker ke Aksesoris Indah Batu Alam Kustom Kisah Ketangguhan Nur Azizah: Berkarya di Kantin Kampus hingga Gudang Ribuan Telur Asin Bebek Angon Dari Fashion ke Minuman Sehat: Transformasi Sukses Erma Menggunakan AI untuk Usaha Susu Almond dan Kurma Category BERITA & PUBLIKASI (73) UMKM & Teknologi (15)
Dari Fashion ke Minuman Sehat: Transformasi Sukses Erma Menggunakan AI untuk Usaha Susu Almond dan Kurma

Hubungi Kami Dari Fashion ke Minuman Sehat: Transformasi Sukses Erma Menggunakan AI untuk Usaha Susu Almond dan Kurma Bogor – Botol-botol susu berwarna cokelat keemasan tersusun rapi di atas meja dapur. Aroma kurma yang manis berpadu dengan susu segar, menghadirkan suasana hangat di rumah sederhana milik Erma Kurais. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya minuman biasa. Namun bagi Erma, seorang ibu rumah tangga, susu kurma adalah simbol perjuangan dan ketekunan.Sebelum menekuni usaha ini, Erma sempat mencoba peruntungan di dunia fashion. Ia menjual pakaian, mengikuti tren, dan bermimpi membangun bisnis sendiri. Namun, perlahan ia sadar bahwa usaha tersebut membutuhkan modal besar. Biaya model, foto produk, hingga peralatan promosi terasa memberatkan. Ketika pandemi COVID-19 datang pada 2020, usaha fashion yang dijalani Erma benarbenar terhenti. Di tengah situasi sulit tersebut, suaminya memberi saran sederhana untuk mencoba berjualan susu kurma. Tanpa rencana matang, tanpa strategi rumit, Erma mulai meracik minuman itu sendiri di dapur rumah. Produksi pertamanya hanya lima botol susu kurma dan pembelinya adalah para tetangga saja. Mereka bilang rasanya sangat enak dan menyegarkan. Dari obrolan mulut ke mulut, pesanan susu kurma mulai berdatangan. Erma lalu berinisiatif membuat akun Instagram sederhana untuk promosi. Foto produknya masih biasa saja, hanya botol bertulisan tanpa banyak hiasan. Namun, rasa dan konsistensi yang ia jaga membuat orang kembali membeli. Dalam sebulan, omzet usahanya berkisar lima hingga enam juta rupiah. Produksirutin mencapai tiga ratus botol dan bisa naik hingga lima ratus botol saat bulan Ramadan. Meski begitu, Erma juga merasakan naik turunnya penjualan. Pada bulan-bulan tertentu seperti Agustus atau Februari, ketika kebutuhan sekolah meningkat, pesanan biasanya berkurang. Perjalanan Erma tidak hanya soal bertahan, tetapi juga soal belajar beradaptasi. Salah satuperubahan besar datang ketika ia mulai memanfaatkan teknologi AI. Dulu, Erma kesulitan membuat materi promosi yang menarik. Sekarang, dengan bantuan AI, ia bisa menampilkan gambar kurma dan almond yang lebih hidup dan profesional. “Rasanya seperti jadi pintar dadakan,” katanya sambil tersenyum. Bagi Erma, teknologi bukan sesuatu yang menakutkan. Justru sebaliknya, AI sangat membantunya berjualan dengan lebih mudah dan efisien. Ia bisa lebih fokus pada kualitas produk, sedangkan urusanvisual dan promosi menjadi lebih ringan. Kemudian, Erma bereksplorasi dengan menambahkan varian susu almond. Minuman sehat ini semakin diminati, terutama oleh mereka yang peduli dengan gaya hidup sehat. Produk susu almond ini yang hingga saat ini ternyata paling digandrungi masyarakat. Karena produk susu milik Erma tidak lagi identik dengan kurma, ia justru mengubah akun instagram yang tadinya sederhana dan belum mengandung merek, dengan nama @almondmilk_hisyam yang saat ini memiliki postingan postingan produk estetik hasil bantuan penggunaan AI. Kini, hampir lima tahun berjalan, Erma telah memiliki beberapa reseller dan pelanggan setia. Hari ini, susu kurma dan susu almond buatannya dijual seharga lima belas ribu rupiah perbotol. Harga yang terjangkau, rasa yang bersahabat, dan proses yang dijalani dengan disiplin menjadikannya dipercaya banyak orang. Dan setiap pagi, ketika Erma kembali berdiri di dapur rumahnya, ia berdiri sebagai pemenang. Bukan karena usahanya besar, tetapi karena ia tidak berhenti melangkah saat dunia berhenti bergerak. Dari dapur sederhana itu, Erma membuktikan bahwa UMKM tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari keberanian menghadapi hari demi hari. Seperti susu almond dan kurma yang ia racik dengan tangannya sendiri, tenang, sederhana, namun menguatkan, usaha Erma terus mengalir. Pelan, konsisten, dan tak tergoyahkan. Sebuah kemenangan kecil yang nyata, dan karena itulah, sungguh heroik. Most Recent Posts IF7F Diresmikan, Football 7 Indonesia Bidik Panggung Dunia 2026 IF7F Lahirkan Era Baru: Sepak Bola 7 Indonesia Menatap Panggung Dunia IF7F Resmi Diluncurkan, Indonesia Masuk Panggung Dunia Football 7 Indonesia Football 7 Federation Resmi Diluncurkan, Siap Ukir Sejarah di Level Internasional Category BERITA & PUBLIKASI (73) UMKM & Teknologi (15)
Dari Cutter hingga AI: Kisah Mikcy Kelola Bambu hingga Mampu Ekspor dan Menghidupkan UMKM Baru

Hubungi Kami Dari Cutter hingga AI: Kisah Mikcy Kelola Bambu hingga Mampu Ekspor dan Menghidupkan UMKM Baru Bogor – Miniatur kendaraan dengan detail halus, gantungan kunci, botol minum, hingga berbagai hiasan rumah yang hangat dipandang, semua itu bisa ditemukan di MQ Art Bamboo. Bagi yang menyukai dekorasi unik dan bernuansa natural, karya-karya bambu buatan Micky Mulyadi terasa akrab sekaligus istimewa. Setiap produk dibuat dengan tangan, penuh ketelitian, dan menyimpan cerita sederhana tentang keindahan bambu yang diolah dengan rasa. Bagi sebagian orang, bambu hanyalah batang hijau yang tumbuh liar di pinggir jalan. Jika bambu dianggap simbol kesederhanaan, maka MQ Art Bamboo adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kebermanfaatan. Dari bahan yang sering dipandang sebelah mata, Micky Mulyadi membangun usaha yang bertahan lebih dari satu dekade. Hobi mengolah bambu berkembang menjadi bisnis, aksi pemberdayaan, hingga menghubungkan bengkel kecil di Bogor itu dengan pasar global. MQ Art Bamboo tidak berhenti bergerak meski pernah berada di titik terendah saat pandemi COVID-19. Produksi nyaris berhenti, bahan baku sulit didapat, dan usaha sempat berada di titik nol. Tapi dari fase paling sulit itu, justru tumbuh kembali keyakinan untuk bangkit. Dalam proses pemulihan, dukungan pemerintah terasa sangat nyata. Bantuan mesin, program pelatihan, dan ruang kolaborasi membuka napas baru. Hal tersebut dikemukakan Micky dalam acara pelatihan UMKM di Bogor (12/11/25) yang dihadiri Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital. Di forum tersebut, transformasi digital termasuk pemanfaatan AI, dibahas sebagai alat kerja, bukan sebagai ancaman. Bagi MQ Art Bamboo, AI telah membantunya untuk desain produk, penghitungan biaya, hingga pengelolaan keuangan sederhana, membuat proses bisnis menjadi lebih mudah dan tertata. Micky memulai MQ Art Bamboo pada 2014, berangkat hanya dari kegemaran, tanpa jaminan pasar, dan tanpa modal besar. Produk awalnya sederhana namun penuh karakter: tumbler, mug, miniatur, hingga karya seni berbahan bambu. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan proses panjang seperti belajar mengawetkan bambu agar tak berjamur, memilih bahan yang tepat, dan menjaga presisi produksi. Tantangan terbesarnya justru ada pada pandangan orang lain: meyakinkan bahwa bambu bukan material kelas dua, melainkan bahan bernilai dan berkelanjutan. Perlahan, konsistensi Micky membuahkan hasil. Sejak 2015–2016, MQ Art Bamboo berkembang melampaui fungsi usaha. Workshop yang awalnya digunakan untuk produksi kini dibuka sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Siapa pun yang ingin belajar pengolahan bambu, baik untuk keterampilan dasar, pengembangan produk, maupun persiapan membangun bisnis, dapat mengikuti workshop ini. Pendekatannya membumi: dari alat paling sederhana hingga pemanfaatan mesin dan teknologi digital. Lebih dari satu dekade berjalan, MQ Art Bamboo kini memiliki omzet sekitar Rp25–30 juta per bulan. Angka itu lahir bukan dari lonjakan instan, melainkan dari jatuh bangun, kegagalan yang berulang, serta keberanian untuk terus belajar. Menariknya, MQ Art Bamboo tidak bergantung pada penjualan daring. Kehadiran bisnisnya di sarana digital dipelihara sesuai keperluan saja, sementara pasar tumbuh dari relasi yang terbangun di lintas daerah seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, hingga Sumatra. Bahkan, produk bambu mereka telah menembus pasar Jepang dan Belanda, meski belum dalam skala besar. Lebih dari sekadar unit bisnis, MQ Art Bamboo membawa visi sosial yang kuat. Workshop yang dimiliki dibuka sebagai ruang pemberdayaan. Mulai dengan alat paling sederhana seperti cutter dan gunting, hingga mengenalkan mesin produksi dan teknologi AI pada mereka yang datang untuk belajar. Ke depan, MQ Art Bamboo menargetkan pengembangan fasilitas seperti CNC router dan UV printing agar dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas dampak pembelajaran dan bisnis bagi peserta workshop. Hari ini, MQ Art Bamboo bukan sekadar unit bisnis. Ia adalah ruang berbagi, tempat belajar, dan simpul kecil pemberdayaan. Dari alat-alat sederhana, hingga mesin dan teknologi AI, semua dipakai untuk satu tujuan: membuka jalan agar lebih banyak orang bisa berkarya dan mandiri. Kisah MQ Art Bamboo mengingatkan bahwa UMKM tidak sukses dari keajaiban. Ia tumbuh dari tangan yang terus bekerja, kebijakan yang mendukung, dan teknologi yang dipergunakan dengan bijak. Dari bengkel sederhana di Bogor, MQ Art Bamboo menunjukkan bahwa UMKM dapat bertahan melewati krisis, membuka peluang bagi orang lain untuk belajar dan berusaha, bahkan menembus pasar luar negeri. Seperti bambu yang menjadi napas usahanya: lentur menghadapi tekanan, kuat menahan beban, dan tumbuh perlahan namun pasti—MQ Art Bamboo menjadi cermin ketahanan UMKM Indonesia.
Katering Heti Terus Tumbuh dengan Gunakan AI hingga Suplai Dapur MBG Lansia

Hubungi Kami Katering Heti Terus Tumbuh dengan Gunakan AI hingga Suplai Dapur MBG Lansia Perjalanan sebuah usaha rumahan yang terus tumbuh hampir satu dekade ini, bukan hanya kisah tentang ketekunan pemiliknya. Tapi merupakan cermin dari bagaimana negara, pasar, dan teknologi, membentuk ekosistem yang membangun. Heti Hernawati merintis usaha kuliner dari rumah sejak 2017: mulai dari kue kering, katering harian, hingga layanan katering pernikahan. Dari dapur kecil itu, lahirlah Heti yang kini menjadi narasumber berbagai pelatihan UMKM, hingga turut andil dalam ratusan menu program makan bergizi gratis (MBG) untuk lansia. Bagi Heti, UMKM bertahan karena struggle, motivasi, dan adanya konsistensi. Ia merasakan langsung bahwa catatan pembukuan adalah fondasi. Usahanya sempat tidak bergerak— stagnant—karena catatan keuangan pribadi dan bisnis katering bercampur. Perubahan kondisi keuangan baru terjadi ketika ia perlahan memisahkan keduanya. Di titik itu, ia menyadari bahwa disiplin kecil yang dilakukannya menjadi pembeda antara UMKM yang ‘jalan di tempat’ dan yang terus bertumbuh. Teknologi digital salah satu alat yang membuka babak baru bagi Heti. ChatGPT, Gemini, dan berbagai perangkat AI bukan sekadar tren baginya. Mereka menjadi alat produksi yang mempermudah pembuatan materi promosi, PPT, tabel, hingga visual produk. Pelatihan yang ia ikuti hari itu di Bogor (12/11/25)—dengan kehadiran Staf Khusus Presiden Tiar Karbala dan Yovie Widianto—membuatnya semakin sadar bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan akselerator. UMKM seperti dirinya tidak perlu lagi bekerja sendirian, ada kebijakan membangun dan edukasi publik yang terus digalakan agar UMKM bisa melek teknologi dan tumbuh bersaing. Namun, di antara seluruh dukungan yang ia rasakan, satu kebijakan menempati tempat khusus dalam kisah Heti: program MBG. Sebagai penyedia makanan dalam program MBG Lansia, Heti menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kebijakan publik bisa mengubah dua sisi sekaligus: kualitas hidup penerima manfaat dan keberlanjutan ekonomi UMKM lokal. Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, dampaknya terasa sangat nyata. Setiap bulan jumlah lansia penerima manfaat bertambah, dan peningkatan itu secara langsung meningkatkan produksi usaha kulinernya. Heti turun langsung ke lapangan. Ia melihat para lansia yang sebelumnya kesulitan makan, hidup sendiri, atau tidak memiliki akses makanan layak, kini mendapatkan hidangan bergizi setiap hari. “Dulu mereka kesulitan untuk makan layak, sekarang bisa makan dengan enak,” ujarnya. Program ini baginya bukan hanya tepat sasaran, tetapi menyentuh sisi paling dasar dari kehidupan manusia: martabat untuk dapat makan layak setiap hari. Di sisi lain, MBG membuka rantai nilai baru yang menghidupkan UMKM daerah. Permintaan yang konsisten ini menciptakan arus produksi stabil—sesuatu yang sangat diidamkan UMKM kuliner. Bagi Heti, program ini meningkatkan omzet usahanya sebesar 20–30%, angka yang signifikan bagi usaha berskala mikro-kecil. MBG menciptakan kepastian permintaan yang selama ini jarang dimiliki pelaku berbagai pelaku usaha. Program MBG juga ‘memaksa’ UMKM untuk naik kelas dari sisi kualitas. Heti harus memastikan kualitas masakan, higienitas dapur, ketepatan waktu distribusi, hingga standar penyajian. MBG bukan hanya memberi pasar; ia memberikan standar—dan standar itulah yang mendorong UMKM untuk bertumbuh lebih profesional. Dari sudut pandang ekonomi kerakyatan, MBG menciptakan model gotong royong modern: pemerintah menyediakan kebijakan, UMKM menyuplai produksi, masyarakat menerima manfaat gizi, dan ekosistem lokal bergerak bersama. Program gizi ini bukan sekadar intervensi sosial, melainkan strategi ekonomi yang memutar roda produksi, menciptakan lapangan kerja, dan menguatkan daya hidup pelaku UMKM. Heti merasakan bahwa untuk pertama kalinya dalam waktu lama, UMKM seperti dirinya bisa stabil bukan karena ‘ada pesanan dadakan’, tetapi karena ada kebijakan negara yang memberi ruang tumbuh. Di akhir kisahnya, Heti memberikan pesan yang merefleksikan seluruh perjalanannya: jangan takut bermimpi, jangan takut berharap. Dari usaha rumahan kecil yang mengandalkan relasi terbatas, kini ia menjadi narasumber hingga keluar kota dan pulau, sambil terus menjalankan bisnis kuliner yang tumbuh bersama program pemerintah. Kisah Heti adalah bukti bahwa UMKM tidak hanya bertahan karena kerja keras individu. Mereka tumbuh ketika mimpi pribadi menemukan jalannya dalam kebijakan publik yang berpihak. Dan ketika itu terjadi, UMKM tidak sekadar menjadi tulang punggung ekonomi— mereka menjadi penggerak utama kesejahteraan rakyat. Most Recent Posts Kisah Naik Kelas YM Project: Dari Jualan Aksesoris Handmade di Sekolah hingga Viral di Pasar Digital Kisah Bertumbuh Maliva Collection: Dari Strap Masker ke Aksesoris Indah Batu Alam Kustom Kisah Ketangguhan Nur Azizah: Berkarya di Kantin Kampus hingga Gudang Ribuan Telur Asin Bebek Angon Dari Fashion ke Minuman Sehat: Transformasi Sukses Erma Menggunakan AI untuk Usaha Susu Almond dan Kurma Category BERITA & PUBLIKASI (73) UMKM & Teknologi (15)
Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia

Hubungi Kami Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia Tak banyak yang menyangka bahwa revolusi kecil dalam ekonomi kreatif Indonesiabisa lahir dari sesuatu yang nyaris dibuang. Dari tumpukan kain perca, potonganbrokat sisa pesta, hingga pernak-pernik kecil yang terselip di sudut meja. EXOBROOCH berdiri—membuktikan bahwa tumbuhnya bisnis justru bisa lahir dari benda sisa yang diremehkan. Kisah EXOBROOCH yang lahir dari tangan Bunga Maharani menjadi simbol bahwa masa depan Green Business sudah hadir. Dari limbah, ia menciptakan karya yang bukan hanya indah—tetapi membalikkan cara masyarakat memandang ‘sampah’. EXOBROOCH berdiri pada 2012 dari kebutuhan sederhana: sebuah bros untuk hijabkerja. Namun sejak awal, bahan bakunya tidak biasa. Kain sisa, brokat sisa, pitasisa, manik-manik sisa industri garmen, serta pernak-pernik kecil yang nyaris dibuang menjadi sumber utama produksi. Dari serpihan-serpihan kecil yang tak dianggap, Bunga merumuskan identitas EXOBROOCH: zero waste sebagai prinsip, bukanhanya slogan pemasaran. Di tangan Bunga, limbah kembali punya takdir. Sebuahbros menjadi simbol bahwa sisa bahan bukanlah akhir, melainkan awal dari ceritabaru yang lebih bernilai. Dalam forum panel diskusi “Ekonomi Kreatif dan UMKM di Era Kecerdasan Buatan” di Bogor pada Rabu (12/11/2025), Bunga menceritakan kisah perjalanan EXOBROOCH memperlihatkan lapisan cerita yang jarang ditangkap di permukaan. Mengenai bagaimana kreasi personal berkembang menjadi gerakan lingkungan, bagaimana pandemi membentuk ulang arah produksi, dan bagaimana kebijakannegara dalam digitalisasi perizinan mampu membuka ruang bagi pelaku usaha yang berbasis keberlanjutan. Pandemi yang sempat melumpuhkan banyak usaha justru menjadi momentum kebangkitan EXOBROOCH. Di saat ruang gerak terbatas, Bunga mengolah kembali kain perca dan brokat sisa menjadi masker double-layer Hellomask, mukena travel zero waste, hingga EXOBEBE, lini fesyen anak berbasis kain perca yang akhirnyamenembus runway nasional. Dari krisis, lahir kreativitas, dari keterbatasan, lahir keberlanjutan. Digitalisasi administrasi selama pandemi menjadi titik balik penting. Proses perizinan yang semula menghabiskan waktu kini ringkas. Program kurasi Smesco, inkubasi kementerian, dan pembukaan akses ke platform seperti Zalora serta TikTok Shop memberikan pijakan yang sebelumnya tidak tersedia bagi UMKM craft. Perubahanpaling nyata terjadi ketika Bunga mengikuti berbagai program yang disediakan oleh pemerintah. Mulai dari inkubasi UMKM hijau, pelatihan digitalisasi, kurasi craft nasional, hingga kompetisi keberlanjutan. Sejak mengikuti berbagai program-program pendampingan tersebut, usaha Bunga Mahanani mengalami perubahan yang ia sebut sebagai ‘loncatan terbesar’ sejak ia merintis bisnis kreatif berbahan kain sisa. Sebelumnya, Bunga bekerja sendirian, meraba-raba pasar, dan hanya mengandalkan pesanan kecil dari pelanggan sekitar. Program pendampingan membuatnya memahami bahwa produk ramah lingkungan yang ia buat sebenarnya memiliki nilai jual lebih tinggi—bukan hanya karena keunikannya, tetapi karena cerita keberlanjutannya. Melalui pelatihan pemerintah, Bunga belajar hal-hal mendasar yang selama ini luput: menghitung biaya dengan tepat, menentukan harga yang sesuai, dan merangkai cerita di balik setiap produk. Ia semakin berani menyatakan bahwa bros dan aksesori EXOBROOCH lahir dari kain perca, brokat sisa, dan pernak-pernik yang pernah dianggap tak berguna. Program-program pemerintah membuka pintu yang lebih luas. Kurasi UMKM, bazar resmi, dan workshop mempertemukannya dengan mentor serta pelanggan barudari berbagai kota. Kepercayaan dirinya tumbuh, ia tak lagi minder karena berbisnis dengan bahan sisa—justru bangga karena menyelamatkan limbah tekstil. Peluang demi peluang datang setelahnya. Melalui Program IP Management Clinicsdari WIPO membuka matanya bahwa setiap bros dan setiap desain punya nilai intelektual yang harus ia jaga. Kesempatan yang paling tak terduga tiba: JPO/IPRTraining Course for MSMEs di Tokyo, Jepang. Dari usaha yang berawal dari kain sisa, Bunga kini duduk di ruang pelatihan internasional, mempelajari cara duniamelihat keberlanjutan sebagai masa depan industri. Semua pengalaman itu menjadikannya lebih matang, lebih berani, dan lebih siap membawa EXOBROOCH melangkah melintasi batas. Baginya, dukungan negara bukan hanya pengetahuan, melainkan jendela pandang: bahwa usaha kecil dapat berdiri tegak di panggung global ketika diberi akses dan kesempatan. Kisah EXOBROOCH bukan sekadar cerita tentang bros, mukena, atau sulam berbahan sisa. Ini adalah bukti bahwa keindahan bisa lahir tanpa merusak bumi—bahkan mampu menghidupkan keluarga dan komunitas. Dari perjalanan Bunga kita belajar: ketika kesempatan dibuka dan keberlanjutan dijadikan arah, UMKM tidakhanya tumbuh—mereka dapat menginspirasi dan membentuk wajah baru ekonomi kreatif Indonesia yang lebih hijau. Most Recent Posts Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Category <lidata-term-id=”16″> BERITA & PUBLIKASI (29) <lidata-term-id=”1″> UMKM & Teknologi (9)
UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan

Hubungi Kami UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Suksesnya sebuah usaha yang dimulai dari dapur kecil mencapai panggung dunia bukan hanya soal ketekunan pengusahanya. Melainkan adalah cermin dari relasi antara rakyat, pasar, dan negara. Kisah Cucup Ruhiyat, Direktur PT Azaki Food International, yang berhasil membawa tempe Indonesia menembus 12 negara, patut dibaca bukan sekadar sebagai prestasi bisnis, tetapi sebagai penanda arah baru ekonomi kerakyatan di Indonesia: bahwa UMKM bukan lagi hanya tulang punggung, melainkan aktor utama yang dapat bersaing di ranah internasional ketika ekosistem kebijakan berpihak dan bekerja dengan baik. Dalam forum panel Ekonomi Kreatif dan UMKM di Era Kecerdasan Buatan di Bogor (12/11/2025), Cucup membagikan kisah yang berlapis antara perjuangan personal, realitas struktural, dan transformasi kebijakan publik. Ia menunjukkan bahwa perjalanan tempe Azaki, yang bermula pada 2005 dan baru perlahan bertransformasi pada 2016, bukanlah sekadar cerita usaha mikro yang naik kelas. Ini adalah narasi tentang bagaimana negara, melalui regulasi dan program seperti Makan Bergizi Gotong Royong (MBG), mampu mengembalikan martabat UMKM sebagai penopang ekonomi rakyat. Cucup merasakan sendiri bagaimana pandemi memadamkan banyak harapan, tetapi fase tersebut baginya justru menjadi ruang belajar baru. Ketika dunia menutup diri, ia membuka halaman baru: mendatangi berbagai sentra produksi tempe, Desa Sanan di Malang salah satunya, untuk mempelajari sistem produksi berskala besar. Saat itu tawaran dari eksportir datang. Disaat pengusaha tempe lain tidak menyanggupi karena rumitnya persyaratan. Dari berbagai perjalanan belajarnya, ia menyadari bahwa ekspor bukan soal keberanian semata, melainkan disiplin memenuhi standar mutu global—mulai dari BPOM, sertifikasi halal, hingga kelayakan higienis internasional. Cucup mengupayakan segala dokumen yang dibutuhkan dengan cermat. Peluang pertamanya datang bukan ketika dunia sedang stabil, tetapi ketika pandemi memaksa seluruh proses perizinan bertransformasi menjadi digital. “Pandemi justru membuat semuanya lebih mudah karena online urusnya, saya sangat terbantu” ujar Cucup. Di sinilah kita menyaksikan peran negara: bahwa kebijakan digitalisasi administrasi bukan hanya efisiensi prosedural, tetapi alat pemberdayaan yang mampu mengubah UMKM menjadi pemain global. Keberhasilan ekspor ke Jepang—yang kini menyebar ke Inggris, Korea Selatan, Australia, Arab Saudi, dan negara-negara Eropa—adalah wujud konkret kapasitas rakyat yang terbangun ketika negara membuka jalannya. Peran negara semakin tampak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keikutsertaan Azaki dalam memasok tempe sebagai sumber protein nabati untuk ratusan dapur MBG di lebih dari 15 kota, bukan hanya soal menyediakan bahan makanan. Ia menunjukkan sebuah model ekonomi baru: bahwa kebijakan publik—yang awalnya berorientasi pada gizi—dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan UMKM. “Satu rumah produksi kami bisa menyuplai lima hingga lima belas dapur MBG,” ungkap Cucup. Jika dikalikan ratusan dapur di berbagai wilayah, kita melihat bagaimana MBG membuka rantai nilai baru: petani kedelai semakin hidup, produsen tempe berkembang, tenaga kerja lokal terserap, dan industri pengolahan pangan masuk dalam orbit kebijakan nasional. Dalam kerangka gotong-royong ini, MBG terbukti bukan jadi sekadar program sosial. Melainkan menjadi strategi ekonomi kerakyatan yang menggandeng UMKM untuk masuk pada ekosistem. UMKM dalam hal ini tidak sekadar menjadi subjek pembinaan, tetapi turut menjadi aktor pembangunan ekonomi. Keberhasilan Azaki masuk pasar global patut diapresiasi. Ia mencapai nilai ekspor hingga 50.000 dolar AS (Rp828 juta) per kontainer, bahkan terus mendapat peningkatan permintaan menjadi tiga kontainer per bulan ke Jeddah. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM adalah fondasi daya saing global, bukan sekadar usaha mikro atau kecil yang dituntut dengan jargon ‘naik kelas’. Kisah inspiratif Cucup Ruhiyat lebih dari omzet yang meningkat setelah merambah ekspor maupun setelah suplai dapur MBG. Nilai yang terpenting adalah: bahwa negara, melalui kemudahan sertifikasi, digitalisasi OSS, hingga penyediaan jalur distribusi melalui program MBG, telah melaksanakan tanggung jawab moralnya terhadap UMKM. Bukan hanya entitas bisnis; mereka adalah penjaga kestabilan sosial, penyangga ekonomi keluarga, dan penggerak ekonomi lokal. Cucup menunjukkan bahwa seorang pelaku UMKM yang didukung kebijakan tepat dapat menjadi duta budaya kuliner Indonesia. Ketika ia berkata, “Kami inovasi orek tempe jadi bernama Protein Crunchy Bites,” Inovasi dari produk Azaki yang mudah diterima pasar global ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki UMKM yang mampu bersaing secara global—selama negara hadir di titik-titik krusial. Dalam dialognya, Cucup menutup dengan prinsip yang sederhana tetapi kuat: menjadi UMKM harus Palugada (apa lu mau, gua ada). Bagi sebagian orang, ini terdengar sebagai pragmatisme dagang. Namun, ketika negara memberikan perlindungan, membuka akses pasar, mempermudah sertifikasi, dan menyediakan ekosistem seperti MBG, maka prinsip Palugada berubah menjadi kekuatan: kemampuan UMKM untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan global tanpa kehilangan identitas lokal. Azaki Food International bukan sekadar prosuden tempe. Ia adalah metafora tentang bagaimana negara dapat memuliakan warganya dengan kebijakan yang berpihak. Dari kisah Azaki terbukti, bahwa ketika rakyat diberi kesempatan dan dukungan, mereka tidak hanya bertahan—mereka bisa tumbuh dan memimpin dunia. Most Recent Posts UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Torch.id Jadi Inspirasi, Tiar Karbala Serukan Pentingnya Data Intelligence bagi UMKM Category <lidata-term-id=”16″> BERITA & PUBLIKASI (29) <lidata-term-id=”1″> UMKM & Teknologi (8)
Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati

Hubungi Kami Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Sumedang — Awalnya merasa tidak percaya diri dengan produknya, tapi sekarang cara jualannya justru memberi banyak inspirasi. Keberhasilan pemasaran salah satu UMKM di Sumedang telah membuktikan bahwa bantuan Artificial Intelligence (AI) bisa melahirkan kisah sukses. Pelatihan AI telah mengubah sekelompok ibu-ibu pengusaha camilan berhasil mengubah gaya pemasarannya di sosial media. Di tengah pesona perbukitan Sumedang, terdapat sekelompok ibu-ibu tangguh yang tidak hanya pandai di dapur, tetapi juga mulai akrab dengan teknologi digital. Merek mereka dikenal sebagai Cemilan Teh Tati, produsen aneka camilan khas Sunda berbahan pisang, singkong, dan belut, yang sudah lama menjadi kebanggaan lokal. Awalnya, kegiatan promosi Cemilan Teh Tati masih dilakukan secara sederhana. Seperti foto produk yang hanya dengan latar polos, tanpa sentuhan visual profesional. Namun, semua berubah setelah tim UMKM ini mendapat kesempatan mengikuti agenda Acara AI Ignition Training yang dibimbing oleh salah satunya Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden bidang UMKM dan Teknologi Digital. Dalam pelatihan yang digelar di Sumedang itu, Tiar Karbala dan penyelenggara memperkenalkan berbagai cara AI dapat membantu UMKM tanpa perlu biaya besar, mulai dari membuat desain kemasan, menulis caption promosi, hingga menghasilkan gambar produk yang menarik dan estetik hanya dengan perintah teks sederhana. Salah satu peserta yang paling antusias adalah Teh Tati Rohayati, pendiri Cemilan Teh Tati. Ia langsung mencoba membuat gambar promosi dengan bantuan AI, yang menampilkan produk keripik singkong dan rangginang di ruang tamu modern dengan pencahayaan yang cantik. Hasilnya? Tampilan yang profesional dan menggugah selera, seperti yang kini tampak di akun Instagram mereka @cemilantehtati. Hasil implementasi AI itu bisa dilihat jelas: feeds Instagram Cemilan Teh Tati kini tampil lebih cerah, bersih, dan modern, seolah hasil foto studio profesional. Setiap unggahan kini memadukan elemen visual menarik dengan copywriting yang ringan dan menggugah, seperti: “Ini dia yang bikin betah di rumah!” “Dijamin bikin kriuk sampai gigitan terakhir!” Perubahan ini membuat tampilan Cemilan Teh Tati semakin dipercaya dan disukai konsumen muda, tanpa menghilangkan ciri khas lokalnya. Teh Tati mengaku awalnya tidak percaya diri. Namun setelah belajar bersama UMKM lainnya dalam Acara AI Ignition Training, ia menyadari bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperkuat kreativitas dan membantu pekerjaan. Kini, ia dan timnya bisa membuat konten promosi sendiri tanpa perlu menyewa fotografer atau desainer. Waktu yang tadinya habis untuk menyiapkan visual kini bisa digunakan untuk berinovasi dengan varian rasa baru. Kini, ia dan timnya bisa membuat konten promosi sendiri tanpa perlu menyewa fotografer atau desainer. Waktu yang tadinya habis untuk menyiapkan visual kini bisa digunakan untuk berinovasi dengan varian rasa baru. Belajar dari Sumedang untuk Indonesia, cerita Cemilan Teh Tati menjadi contoh nyata bagaimana transformasi digital bisa dimulai dari dapur sederhana. Dengan sentuhan AI dan semangat belajar tanpa batas, UMKM seperti mereka membuktikan bahwa teknologi tidak hanya milik mereka yang berbisnis di kota besar, tapi juga bisa hidup dan berkembang di desa. Most Recent Posts Ketika UMKM Ibu-Ibu di Sumedang Sukses Praktek AI: Cerita Cemilan Teh Tati Kecerdasan Buatan Jadi Senjata Baru UMKM, Tiar Karbala Dorong Implementasi Nyata di Kuningan Torch.id Jadi Inspirasi, Tiar Karbala Serukan Pentingnya Data Intelligence bagi UMKM Kunjungi SCREAMOUS, Tiar Karbala Dorong Brand Lokal Tembus Pasar Global Category Liputan Media (13) UMKM & Teknologi (7)
