Kisah Ketangguhan Nur Azizah: Berkarya di Kantin Kampus hingga Gudang Ribuan Telur Asin Bebek Angon

Uap panas mengepul dari panci besar di sudut sebuah rumah produksi sederhana. Ratusan telur bebek tersusun rapi, siap direbus. Aroma gurih khas telur asin memenuhi ruangan, menyatu dengan kesibukan tangan-tangan yang tak pernah berhenti bekerja. Di balik aktivitas itu, berdiri sosok perempuan tangguh bernama Nur Azizah, seorang pelaku UMKM yang membangun usahanya dari kegigihan, kegagalan, dan keberanian untuk belajar.

Azizah dulu seorang pengusaha katering yang sempat bangkrut karena persaingan usaha di Bogor, kini sudah dengan canggih mengelola bisnis telor asinnya menggunakan bantuan AI. Ia kini telah mampu memproduksi hingga belasan ribu butir setiap bulan. Dalam acara pelatihan UMKM di Bogor (12/11/25), ia menyatakan bahwa AI sangat mempermudah bisnisnya, mulai dari strategi pemasaran bahkan hingga ke level perbaikan kualitas produksi. Namun, posisi suksesnya itu ditempuh melalui jatuh bangun dan pembelajaran.

Sebelum dikenal sebagai pemilik Telur Asin Bebek Angon Siragil Kaizer, Azizah menghabiskan hidupnya selama lebih dari lima belas tahun di dunia katering dan kantin kampus. Sejak tahun 2003, ia melayani mahasiswa, acara universitas, dan berbagai kegiatan akademik. Dapurnya selalu ramai. Pesanan datang silih berganti, dan di masa
tersebut hidupnya terasa stabil.

Namun, dunia usaha tidak selalu berjalan sesuai rencana. Perlahan, kompetitor bermunculan dan sistem pengelolaan kantin berubah. Mall dan pusat perbelanjaan mengambil alih ruang usaha kecil di Bogor. Pesanan katering menurun, pelanggan tetap satu per satu menghilang, hingga akhirnya pada 2018 Nur Azizah harus menutup usaha katering yang ia bangun dengan penuh keringat.

Saat itu hatinya sempat terasa kosong. Namun hidup tidak memberi pilihan untuk berhenti. Ia percaya, selama masih ada kemauan dan harapan, jalan selalu bisa dicari. Harapan itu datang dari hal yang sederhana: suaminya bekerja di Cikampek, daerah peternakan bebek angon yang dilepas bebas tanpa pakan kimia. Dari sanalah muncul ide yang kelak mengubah hidupnya, membuat telur asin dari bebek angon.

Ia memulai sebagai reseller kecil-kecilan. Penjualan awalnya sekitar 150 butir setiap dua minggu, dijual ke warung, pasar, dan pelanggan satu per satu. Tanpa strategi pemasaran atau hitung-hitungan rumit, ia hanya yakin bahwa usaha yang dikerjakan dengan sungguhsungguh akan menemukan jalannya. Pesanan pun perlahan meningkat menjadi 300 butir

Namun pertumbuhan itu membawa masalah baru. Ketergantungan pada produsen membuat kualitas tidak selalu terjaga. Telur yang belum siap panen sering berujung busuk dan memicu komplain. Kerugian yang dirasakan bukan hanya soal uang, tetapi juga rasa malu dan kepercayaan pelanggan yang mulai terkikis.

Di titik itu, Nur Azizah sadar bahwa ia tidak bisa terus bergantung pada orang lain. Ia mungkin belum paham betul proses produksi, tapi ia mengerti satu hal: jika ingin bertahan, ia harus memegang kendali sendiri. Dengan berbekal rasa ragu dan takut gagal, ia mulai memproduksi telur asin secara mandiri. Dua bulan pertama terasa berat. Banyak telur gagal, terlalu asin, kurang awet, dan komplain datang silih berganti.

Meski begitu, ia tidak menyerah. Setiap keluhan dicatat, setiap kegagalan dipelajari. Alhasil, ia semakin pintar memilih telur bebek yang baik, menentukan lama perendaman, dan teknik perebusan yang tepat. Kualitas telur asinnya pun perlahan semakin membaik. Pelanggan menyatakan telurnya kini lebih gurih, tidak amis, dan rasanya pas.

Tanpa ia sadari, produknya berkembang menjadi telur asin premium. Produksi yang awalnya ratusan butir perbulan kini mencapai belasan ribu. Tahun 2023, ia mengikuti
program pendampingan UMKM dari Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat. Di sana, ia belajar pemasaran digital, e-commerce, dan pencatatan keuangan, serta banyak hal-hal
yang dulu terasa jauh dan rumit.

Saat ini, sosial media instagram @telurasin.bogor selalu aktif dan menjadi inspirasi pengusaha telur asin lainnya. Nur Azizah juga kini tidak lagi bekerja sendirian di dapur kecilnya. Ia memiliki rumah produksi, karyawan, dan kurir. Usahanya bukan hanya menopang keluarganya, tetapi juga memberi penghidupan bagi orang lain.

Setiap pagi, saat ia menyalakan kompor dan menyusun telur ke dalam panci, ia tahu bahwa yang ia rawat bukan sekadar usaha telur asin, melainkan mimpi yang tumbuh dari kesabaran dan keberanian untuk terus melangkah. Seperti telur bebek angon yang direbus perlahan, usahanya dirawat penuh kesabaran untuk menuju kesuksesan.