Produk Menawan dari Bahan Sisa, EXOBROOCH Menjadi Inspirasi UMKM Hijau Indonesia

Tak banyak yang menyangka bahwa revolusi kecil dalam ekonomi kreatif Indonesiabisa lahir dari sesuatu yang nyaris dibuang. Dari tumpukan kain perca, potonganbrokat sisa pesta, hingga pernak-pernik kecil yang terselip di sudut meja. EXOBROOCH berdiri—membuktikan bahwa tumbuhnya bisnis justru bisa lahir dari benda sisa yang diremehkan. Kisah EXOBROOCH yang lahir dari tangan Bunga Maharani menjadi simbol bahwa masa depan Green Business sudah hadir. Dari limbah, ia menciptakan karya yang bukan hanya indah—tetapi membalikkan cara masyarakat memandang ‘sampah’.

EXOBROOCH berdiri pada 2012 dari kebutuhan sederhana: sebuah bros untuk hijabkerja. Namun sejak awal, bahan bakunya tidak biasa. Kain sisa, brokat sisa, pitasisa, manik-manik sisa industri garmen, serta pernak-pernik kecil yang nyaris dibuang menjadi sumber utama produksi. Dari serpihan-serpihan kecil yang tak dianggap, Bunga merumuskan identitas EXOBROOCH: zero waste sebagai prinsip, bukanhanya slogan pemasaran. Di tangan Bunga, limbah kembali punya takdir. Sebuahbros menjadi simbol bahwa sisa bahan bukanlah akhir, melainkan awal dari ceritabaru yang lebih bernilai.

Dalam forum panel diskusi “Ekonomi Kreatif dan UMKM di Era Kecerdasan Buatan” di Bogor pada Rabu (12/11/2025), Bunga menceritakan kisah perjalanan EXOBROOCH memperlihatkan lapisan cerita yang jarang ditangkap di permukaan. Mengenai bagaimana kreasi personal berkembang menjadi gerakan lingkungan, bagaimana pandemi membentuk ulang arah produksi, dan bagaimana kebijakannegara dalam digitalisasi perizinan mampu membuka ruang bagi pelaku usaha yang berbasis keberlanjutan.

Pandemi yang sempat melumpuhkan banyak usaha justru menjadi momentum kebangkitan EXOBROOCH. Di saat ruang gerak terbatas, Bunga mengolah kembali kain perca dan brokat sisa menjadi masker double-layer Hellomask, mukena travel zero waste, hingga EXOBEBE, lini fesyen anak berbasis kain perca yang akhirnyamenembus runway nasional. Dari krisis, lahir kreativitas, dari keterbatasan, lahir keberlanjutan.

Digitalisasi administrasi selama pandemi menjadi titik balik penting. Proses perizinan yang semula menghabiskan waktu kini ringkas. Program kurasi Smesco, inkubasi kementerian, dan pembukaan akses ke platform seperti Zalora serta TikTok Shop memberikan pijakan yang sebelumnya tidak tersedia bagi UMKM craft. Perubahanpaling nyata terjadi ketika Bunga mengikuti berbagai program yang disediakan oleh pemerintah. Mulai dari inkubasi UMKM hijau, pelatihan digitalisasi, kurasi craft nasional, hingga kompetisi keberlanjutan.

Sejak mengikuti berbagai program-program pendampingan tersebut, usaha Bunga Mahanani mengalami perubahan yang ia sebut sebagai ‘loncatan terbesar’ sejak ia merintis bisnis kreatif berbahan kain sisa. Sebelumnya, Bunga bekerja sendirian, meraba-raba pasar, dan hanya mengandalkan pesanan kecil dari pelanggan sekitar.

Program pendampingan membuatnya memahami bahwa produk ramah lingkungan yang ia buat sebenarnya memiliki nilai jual lebih tinggi—bukan hanya karena keunikannya, tetapi karena cerita keberlanjutannya.

Melalui pelatihan pemerintah, Bunga belajar hal-hal mendasar yang selama ini luput: menghitung biaya dengan tepat, menentukan harga yang sesuai, dan merangkai cerita di balik setiap produk. Ia semakin berani menyatakan bahwa bros dan aksesori EXOBROOCH lahir dari kain perca, brokat sisa, dan pernak-pernik yang pernah dianggap tak berguna.

Program-program pemerintah membuka pintu yang lebih luas. Kurasi UMKM, bazar resmi, dan workshop mempertemukannya dengan mentor serta pelanggan barudari berbagai kota. Kepercayaan dirinya tumbuh, ia tak lagi minder karena berbisnis dengan bahan sisa—justru bangga karena menyelamatkan limbah tekstil.

Peluang demi peluang datang setelahnya. Melalui Program IP Management Clinicsdari WIPO membuka matanya bahwa setiap bros dan setiap desain punya nilai intelektual yang harus ia jaga. Kesempatan yang paling tak terduga tiba: JPO/IPRTraining Course for MSMEs di Tokyo, Jepang. Dari usaha yang berawal dari kain sisa, Bunga kini duduk di ruang pelatihan internasional, mempelajari cara duniamelihat keberlanjutan sebagai masa depan industri.

Semua pengalaman itu menjadikannya lebih matang, lebih berani, dan lebih siap membawa EXOBROOCH melangkah melintasi batas. Baginya, dukungan negara bukan hanya pengetahuan, melainkan jendela pandang: bahwa usaha kecil dapat berdiri tegak di panggung global ketika diberi akses dan kesempatan.

Kisah EXOBROOCH bukan sekadar cerita tentang bros, mukena, atau sulam berbahan sisa. Ini adalah bukti bahwa keindahan bisa lahir tanpa merusak bumi—bahkan mampu menghidupkan keluarga dan komunitas. Dari perjalanan Bunga kita belajar: ketika kesempatan dibuka dan keberlanjutan dijadikan arah, UMKM tidakhanya tumbuh—mereka dapat menginspirasi dan membentuk wajah baru ekonomi kreatif Indonesia yang lebih hijau.