UMKM Tempe Mendunia: Kisah Azaki dan Peran Negara dalam Menopang Ekonomi Kerakyatan
Suksesnya sebuah usaha yang dimulai dari dapur kecil mencapai panggung dunia bukan hanya soal ketekunan pengusahanya. Melainkan adalah cermin dari relasi antara rakyat, pasar, dan negara. Kisah Cucup Ruhiyat, Direktur PT Azaki Food International, yang berhasil membawa tempe Indonesia menembus 12 negara, patut dibaca bukan sekadar sebagai prestasi bisnis, tetapi sebagai penanda arah baru ekonomi kerakyatan di Indonesia: bahwa UMKM bukan lagi hanya tulang punggung, melainkan aktor utama yang dapat bersaing di ranah internasional ketika ekosistem kebijakan berpihak dan bekerja dengan baik.
Dalam forum panel Ekonomi Kreatif dan UMKM di Era Kecerdasan Buatan di Bogor (12/11/2025), Cucup membagikan kisah yang berlapis antara perjuangan personal, realitas struktural, dan transformasi kebijakan publik. Ia menunjukkan bahwa perjalanan tempe Azaki, yang bermula pada 2005 dan baru perlahan bertransformasi pada 2016, bukanlah sekadar cerita usaha mikro yang naik kelas. Ini adalah narasi tentang bagaimana negara, melalui regulasi dan program seperti Makan Bergizi Gotong Royong (MBG), mampu mengembalikan martabat UMKM sebagai penopang ekonomi rakyat.
Cucup merasakan sendiri bagaimana pandemi memadamkan banyak harapan, tetapi fase tersebut baginya justru menjadi ruang belajar baru. Ketika dunia menutup diri, ia membuka halaman baru: mendatangi berbagai sentra produksi tempe, Desa Sanan di Malang salah satunya, untuk mempelajari sistem produksi berskala besar. Saat itu tawaran dari eksportir datang. Disaat pengusaha tempe lain tidak menyanggupi karena rumitnya persyaratan. Dari berbagai perjalanan belajarnya, ia menyadari bahwa ekspor bukan soal keberanian semata, melainkan disiplin memenuhi standar mutu global—mulai dari BPOM, sertifikasi halal, hingga kelayakan higienis internasional. Cucup mengupayakan segala dokumen yang dibutuhkan dengan cermat.
Peluang pertamanya datang bukan ketika dunia sedang stabil, tetapi ketika pandemi memaksa seluruh proses perizinan bertransformasi menjadi digital. “Pandemi justru membuat semuanya lebih mudah karena online urusnya, saya sangat terbantu” ujar Cucup.
Di sinilah kita menyaksikan peran negara: bahwa kebijakan digitalisasi administrasi bukan hanya efisiensi prosedural, tetapi alat pemberdayaan yang mampu mengubah UMKM menjadi pemain global. Keberhasilan ekspor ke Jepang—yang kini menyebar ke Inggris, Korea Selatan, Australia, Arab Saudi, dan negara-negara Eropa—adalah wujud konkret kapasitas rakyat yang terbangun ketika negara membuka jalannya.
Peran negara semakin tampak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keikutsertaan Azaki dalam memasok tempe sebagai sumber protein nabati untuk ratusan dapur MBG di lebih dari 15 kota, bukan hanya soal menyediakan bahan makanan. Ia menunjukkan sebuah model ekonomi baru: bahwa kebijakan publik—yang awalnya berorientasi pada gizi—dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan UMKM.
“Satu rumah produksi kami bisa menyuplai lima hingga lima belas dapur MBG,” ungkap Cucup. Jika dikalikan ratusan dapur di berbagai wilayah, kita melihat bagaimana MBG membuka rantai nilai baru: petani kedelai semakin hidup, produsen tempe berkembang, tenaga kerja lokal terserap, dan industri pengolahan pangan masuk dalam orbit kebijakan nasional.
Dalam kerangka gotong-royong ini, MBG terbukti bukan jadi sekadar program sosial. Melainkan menjadi strategi ekonomi kerakyatan yang menggandeng UMKM untuk masuk pada ekosistem. UMKM dalam hal ini tidak sekadar menjadi subjek pembinaan, tetapi turut menjadi aktor pembangunan ekonomi.
Keberhasilan Azaki masuk pasar global patut diapresiasi. Ia mencapai nilai ekspor hingga 50.000 dolar AS (Rp828 juta) per kontainer, bahkan terus mendapat peningkatan permintaan menjadi tiga kontainer per bulan ke Jeddah. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM adalah fondasi daya saing global, bukan sekadar usaha mikro atau kecil yang dituntut dengan jargon ‘naik kelas’.
Kisah inspiratif Cucup Ruhiyat lebih dari omzet yang meningkat setelah merambah ekspor maupun setelah suplai dapur MBG. Nilai yang terpenting adalah: bahwa negara, melalui kemudahan sertifikasi, digitalisasi OSS, hingga penyediaan jalur distribusi melalui program MBG, telah melaksanakan tanggung jawab moralnya terhadap UMKM. Bukan hanya entitas bisnis; mereka adalah penjaga kestabilan sosial, penyangga ekonomi keluarga, dan penggerak ekonomi lokal.
Cucup menunjukkan bahwa seorang pelaku UMKM yang didukung kebijakan tepat dapat menjadi duta budaya kuliner Indonesia. Ketika ia berkata, “Kami inovasi orek tempe jadi bernama Protein Crunchy Bites,” Inovasi dari produk Azaki yang mudah diterima pasar global ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki UMKM yang mampu bersaing secara global—selama negara hadir di titik-titik krusial.
Dalam dialognya, Cucup menutup dengan prinsip yang sederhana tetapi kuat: menjadi UMKM harus Palugada (apa lu mau, gua ada). Bagi sebagian orang, ini terdengar sebagai pragmatisme dagang. Namun, ketika negara memberikan perlindungan, membuka akses pasar, mempermudah sertifikasi, dan menyediakan ekosistem seperti MBG, maka prinsip Palugada berubah menjadi kekuatan: kemampuan UMKM untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan global tanpa kehilangan identitas lokal.
Azaki Food International bukan sekadar prosuden tempe. Ia adalah metafora tentang bagaimana negara dapat memuliakan warganya dengan kebijakan yang berpihak. Dari kisah Azaki terbukti, bahwa ketika rakyat diberi kesempatan dan dukungan, mereka tidak hanya bertahan—mereka bisa tumbuh dan memimpin dunia.