Kisah Bertumbuh Maliva Collection: Dari Strap Masker ke Aksesoris Indah Batu Alam Kustom

Hubungi Kami Kisah Bertumbuh Maliva Collection: Dari Strap Masker ke Aksesoris Indah Batu Alam Kustom Bogor – Di sebuah sudut meja kerja sederhana, manik-manik kecil berkilau terkenacahayalampu. Batu-batu berkilau nuansa alam tersusun rapi, sebagian sudah terangkai menjadi gelang, bros, dan cincin dengan detail rinci dan menawan. Dalam sebulan, iamampumemproduksi lebih dari 500 hingga 1000 pieces aksesoris. Pesanan cincin sederhanabisamencapai lebih dari 100 buah per hari. Di balik ketelitian itu, duduk seorang perempuanyang dahulu tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pelaku UMKM. Ia adalahLina, pemilik Maliva Collection. Lina tidak pernah berhenti mengupayakan usahanya agar terus tumbuh. Ia mengikuti berbagai pendampingan dari Dinas UMKM, mempelajari pentingnya legalitas usaha, pembuatan NIB, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual. Pelatihan demi pelatihanyang diikutinya awalnya terasa rumit, tetapi perlahan Lina memahami bahwa usahatidakcukup hanya dengan bisa membuat produk. Perlu ada strategi khusus, pencatatan, inovasi, dan keberanian untuk tampil di pasar. Dalam agenda pelatihan Bogor (12/11/25) yang dihadiri Tiar Karbala, Staf Khusus PresidenBidang UMKM dan Teknologi Digital, Lina belajar semakin banyak. Perkembangannyasangat terasa ketika ia mengikuti pelatihan tersebut yang mengenalkan pemanfaatan AI. Jika dulu ia harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa model foto produk, kini ia dapat memanfaatkan teknologi untuk promosi lewat visual yang menarik, analisis kompetitor, hingga strategi bundling bisnis. Baginya, teknologi sama sekali bukanlah ancaman, justrumerupakan alat bantu untuk UMKM seperti dirinya bisa cepat naik kelas. Suatu ketika, Lina akhirnya mengambil kesempatan mengikuti pameran, yang akhirnyamenjadi titik balik penting. Di sana ia belajar bahwa teori berbeda denganpraktik. Berhadapan langsung dengan pembeli membuatnya memahami selera pasar, melihat realitadaya saing, dan pentingnya komunikasi produk. Ia menyadari bahwa marketing fisiktidakbisa dipisahkan dari marketing secara online. Di rumah, ia mendapat dukungan dari anaknya yang membantu mengelola akun Instagramdan TikTok, bernama @maliva.collections. Pelanggan yang awalnya membeli di pameranmulai mengirim pesan melalui direct message (DM). Mereka meminta warna berbeda, desain-desain khusus, bahkan kombinasi batu antik tertentu. Dari situlah Lina menemukankekuatan produknya: free-custom dan keunikan. Meski demikian, ia juga menyadari tantangan besar di sektor kerajinan. Berbedadenganproduk massal, aksesoris handmade tidak bisa disamakan dengan produksi pabrik. Setiapitem memiliki keunikan dan tidak selalu bisa dibuat dalam jumlah besar secara instan. Iabersaing dengan produk murah dan massal di pasaran, tetapi memilih bertahanpadakualitas dan nilai. Tahun 2021 adalah awal perjalanannya yang bahkan saat itu belummemahami apa arti UMKM. Lina saat itu masih menjadi seorang ibu rumah tangga yang memiliki keinginansederhana untuk mengisi waktu luang dengan membantu ekonomi keluarga. Produk pertamanya pun lahir di tengah situasi pandemi: strap masker handmade. Sederhana, terbatas, dan belum banyak dilirik pasar. Di tengah suramnya usaha-usaha yang jatuh di masa pandemi, perlahan ia mulai mengembangkan varian gelang, bros, cincin, hingga aksesoris berbahan batu-batu alam dan tembaga. Setiap detail dikerjakan dengan tangan. Ada produk yang selesai dalam hitungan jam, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu berhari-hari karena detilnya yang mendalam. Nilai produknya bukan sekadar bahan baku, melainkan juga tingkat kerumitandan sentuhan personal yang bermakna di dalamnya. Bagi Lina, aksesoris bukan sekadar pelengkap penampilan. Ia ingin produknya memberi rasa percaya diri, kebanggaan, dan kesan elegan bagi yang memakainya. Hingga, suatu hari datang ajakan kolaborasi dengan pelaku usaha garmen yang tertarik menggabungkanaksesoris Lina dengan produknya. Di balik semua itu, Lina memegang tiga prinsip sederhana: konsisten, disiplin, dan semangat. Ia percaya UMKM bisa bertahan dalam kondisi apa pun jika pelakunya terus belajar dantidak berhenti bergerak. Dukungan pemerintah penting, tetapi dorongan terbesar harusdatang dari dalam diri. Kini, ia rutin mengikuti pameran di pusat perbelanjaan seperti Botani Square dan berkeliling ke sekolah serta kampus. Dari seorang ibu rumah tangga yang tak mengenal istilah UMKM, Lina tumbuh menjadi pengusaha aksesoris handmade yang mandiri dan adaptif terhadap zaman. Di setiaprangkaian batu cantik yang ia susun, tersimpan kisah tentang keberanian untuk memulai, kesabaran bertumbuh, dan keyakinan kuat. Bahwa usaha akan menemukan jalan indahnyajika terus dengan sungguh-sungguh dirawat Social Media @officialtiarkarbala Tiar Karbala