Dari Cutter hingga AI: Kisah Mikcy Kelola Bambu hingga Mampu Ekspor dan Menghidupkan UMKM Baru

Bogor – Miniatur kendaraan dengan detail halus, gantungan kunci, botol minum, hingga berbagai hiasan rumah yang hangat dipandang, semua itu bisa ditemukan di MQ Art Bamboo. Bagi yang menyukai dekorasi unik dan bernuansa natural, karya-karya bambu buatan Micky Mulyadi terasa akrab sekaligus istimewa. Setiap produk dibuat dengan tangan, penuh ketelitian, dan menyimpan cerita sederhana tentang keindahan bambu yang diolah dengan rasa. 

Bagi sebagian orang, bambu hanyalah batang hijau yang tumbuh liar di pinggir jalan. Jika bambu dianggap simbol kesederhanaan, maka MQ Art Bamboo adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kebermanfaatan. Dari bahan yang sering dipandang sebelah mata, Micky Mulyadi membangun usaha yang bertahan lebih dari satu dekade. Hobi mengolah bambu berkembang menjadi bisnis, aksi pemberdayaan, hingga menghubungkan bengkel kecil di Bogor itu dengan pasar global. 

MQ Art Bamboo tidak berhenti bergerak meski pernah berada di titik terendah saat pandemi COVID-19. Produksi nyaris berhenti, bahan baku sulit didapat, dan usaha sempat berada di titik nol. Tapi dari fase paling sulit itu, justru tumbuh kembali keyakinan untuk bangkit. Dalam proses pemulihan, dukungan pemerintah terasa sangat nyata. Bantuan mesin, program pelatihan, dan ruang kolaborasi membuka napas baru. 

Hal tersebut dikemukakan Micky dalam acara pelatihan UMKM di Bogor (12/11/25) yang dihadiri Tiar Karbala, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital. Di forum tersebut, transformasi digital termasuk pemanfaatan AI, dibahas sebagai alat kerja, bukan sebagai ancaman. Bagi MQ Art Bamboo, AI telah membantunya untuk desain produk, penghitungan biaya, hingga pengelolaan keuangan sederhana, membuat proses bisnis menjadi lebih mudah dan tertata. 

Micky memulai MQ Art Bamboo pada 2014, berangkat hanya dari kegemaran, tanpa jaminan pasar, dan tanpa modal besar. Produk awalnya sederhana namun penuh karakter: tumbler, mug, miniatur, hingga karya seni berbahan bambu. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan proses panjang seperti belajar mengawetkan bambu agar tak berjamur, memilih bahan yang tepat, dan menjaga presisi produksi. Tantangan terbesarnya justru ada pada pandangan orang lain: meyakinkan bahwa bambu bukan material kelas dua, melainkan bahan bernilai dan berkelanjutan. 

Perlahan, konsistensi Micky membuahkan hasil. Sejak 2015–2016, MQ Art Bamboo berkembang melampaui fungsi usaha. Workshop yang awalnya digunakan untuk produksi kini dibuka sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Siapa pun yang ingin belajar pengolahan bambu, baik untuk keterampilan dasar, pengembangan produk, maupun persiapan membangun bisnis, dapat mengikuti workshop ini. Pendekatannya membumi: dari alat paling sederhana hingga pemanfaatan mesin dan teknologi digital.

Lebih dari satu dekade berjalan, MQ Art Bamboo kini memiliki omzet sekitar Rp25–30 juta per bulan. Angka itu lahir bukan dari lonjakan instan, melainkan dari jatuh bangun, kegagalan yang berulang, serta keberanian untuk terus belajar.

Menariknya, MQ Art Bamboo tidak bergantung pada penjualan daring. Kehadiran bisnisnya di sarana digital dipelihara sesuai keperluan saja, sementara pasar tumbuh dari relasi yang terbangun di lintas daerah seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, hingga Sumatra. Bahkan, produk bambu mereka telah menembus pasar Jepang dan Belanda, meski belum dalam skala besar. 

Lebih dari sekadar unit bisnis, MQ Art Bamboo membawa visi sosial yang kuat. Workshop yang dimiliki dibuka sebagai ruang pemberdayaan. Mulai dengan alat paling sederhana seperti cutter dan gunting, hingga mengenalkan mesin produksi dan teknologi AI pada mereka yang datang untuk belajar. Ke depan, MQ Art Bamboo menargetkan pengembangan fasilitas seperti CNC router dan UV printing agar dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas dampak pembelajaran dan bisnis bagi peserta workshop.

Hari ini, MQ Art Bamboo bukan sekadar unit bisnis. Ia adalah ruang berbagi, tempat belajar, dan simpul kecil pemberdayaan. Dari alat-alat sederhana, hingga mesin dan teknologi AI, semua dipakai untuk satu tujuan: membuka jalan agar lebih banyak orang bisa berkarya dan mandiri. 

Kisah MQ Art Bamboo mengingatkan bahwa UMKM tidak sukses dari keajaiban. Ia tumbuh dari tangan yang terus bekerja, kebijakan yang mendukung, dan teknologi yang dipergunakan dengan bijak. Dari bengkel sederhana di Bogor, MQ Art Bamboo menunjukkan bahwa UMKM dapat bertahan melewati krisis, membuka peluang bagi orang lain untuk belajar dan berusaha, bahkan menembus pasar luar negeri. Seperti bambu yang menjadi napas usahanya: lentur menghadapi tekanan, kuat menahan beban, dan tumbuh perlahan namun pasti—MQ Art Bamboo menjadi cermin ketahanan UMKM Indonesia.