Perjalanan sebuah usaha rumahan yang terus tumbuh hampir satu dekade ini, bukan hanya kisah tentang ketekunan pemiliknya. Tapi merupakan cermin dari bagaimana negara, pasar, dan teknologi, membentuk ekosistem yang membangun. Heti Hernawati merintis usaha kuliner dari rumah sejak 2017: mulai dari kue kering, katering harian, hingga layanan katering pernikahan. Dari dapur kecil itu, lahirlah Heti yang kini menjadi narasumber berbagai pelatihan UMKM, hingga turut andil dalam ratusan menu program makan bergizi gratis (MBG) untuk lansia.
Bagi Heti, UMKM bertahan karena struggle, motivasi, dan adanya konsistensi. Ia merasakan langsung bahwa catatan pembukuan adalah fondasi. Usahanya sempat tidak bergerak— stagnant—karena catatan keuangan pribadi dan bisnis katering bercampur. Perubahan kondisi keuangan baru terjadi ketika ia perlahan memisahkan keduanya. Di titik itu, ia menyadari bahwa disiplin kecil yang dilakukannya menjadi pembeda antara UMKM yang ‘jalan di tempat’ dan yang terus bertumbuh.
Teknologi digital salah satu alat yang membuka babak baru bagi Heti. ChatGPT, Gemini, dan berbagai perangkat AI bukan sekadar tren baginya. Mereka menjadi alat produksi yang mempermudah pembuatan materi promosi, PPT, tabel, hingga visual produk. Pelatihan yang ia ikuti hari itu di Bogor (12/11/25)—dengan kehadiran Staf Khusus Presiden Tiar Karbala dan Yovie Widianto—membuatnya semakin sadar bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan akselerator. UMKM seperti dirinya tidak perlu lagi bekerja sendirian, ada kebijakan membangun dan edukasi publik yang terus digalakan agar UMKM bisa melek teknologi dan tumbuh bersaing.
Namun, di antara seluruh dukungan yang ia rasakan, satu kebijakan menempati tempat khusus dalam kisah Heti: program MBG. Sebagai penyedia makanan dalam program MBG Lansia, Heti menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kebijakan publik bisa mengubah dua sisi sekaligus: kualitas hidup penerima manfaat dan keberlanjutan ekonomi UMKM lokal. Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, dampaknya terasa sangat nyata. Setiap bulan jumlah lansia penerima manfaat bertambah, dan peningkatan itu secara langsung meningkatkan produksi usaha kulinernya.
Heti turun langsung ke lapangan. Ia melihat para lansia yang sebelumnya kesulitan makan, hidup sendiri, atau tidak memiliki akses makanan layak, kini mendapatkan hidangan bergizi setiap hari. “Dulu mereka kesulitan untuk makan layak, sekarang bisa makan dengan enak,” ujarnya. Program ini baginya bukan hanya tepat sasaran, tetapi menyentuh sisi paling dasar dari kehidupan manusia: martabat untuk dapat makan layak setiap hari.
Di sisi lain, MBG membuka rantai nilai baru yang menghidupkan UMKM daerah. Permintaan yang konsisten ini menciptakan arus produksi stabil—sesuatu yang sangat diidamkan UMKM kuliner. Bagi Heti, program ini meningkatkan omzet usahanya sebesar 20–30%, angka yang signifikan bagi usaha berskala mikro-kecil. MBG menciptakan kepastian permintaan yang selama ini jarang dimiliki pelaku berbagai pelaku usaha.
Program MBG juga ‘memaksa’ UMKM untuk naik kelas dari sisi kualitas. Heti harus memastikan kualitas masakan, higienitas dapur, ketepatan waktu distribusi, hingga standar penyajian. MBG bukan hanya memberi pasar; ia memberikan standar—dan standar itulah yang mendorong UMKM untuk bertumbuh lebih profesional.
Dari sudut pandang ekonomi kerakyatan, MBG menciptakan model gotong royong modern: pemerintah menyediakan kebijakan, UMKM menyuplai produksi, masyarakat menerima manfaat gizi, dan ekosistem lokal bergerak bersama. Program gizi ini bukan sekadar intervensi sosial, melainkan strategi ekonomi yang memutar roda produksi, menciptakan lapangan kerja, dan menguatkan daya hidup pelaku UMKM. Heti merasakan bahwa untuk pertama kalinya dalam waktu lama, UMKM seperti dirinya bisa stabil bukan karena ‘ada pesanan dadakan’, tetapi karena ada kebijakan negara yang memberi ruang tumbuh.
Di akhir kisahnya, Heti memberikan pesan yang merefleksikan seluruh perjalanannya: jangan takut bermimpi, jangan takut berharap. Dari usaha rumahan kecil yang mengandalkan relasi terbatas, kini ia menjadi narasumber hingga keluar kota dan pulau, sambil terus menjalankan bisnis kuliner yang tumbuh bersama program pemerintah.
Kisah Heti adalah bukti bahwa UMKM tidak hanya bertahan karena kerja keras individu. Mereka tumbuh ketika mimpi pribadi menemukan jalannya dalam kebijakan publik yang berpihak. Dan ketika itu terjadi, UMKM tidak sekadar menjadi tulang punggung ekonomi— mereka menjadi penggerak utama kesejahteraan rakyat.